Lune [discontinued]

Lune [discontinued]

  • WpView
    LECTURAS 629
  • WpVote
    Votos 179
  • WpPart
    Partes 9
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, jun 22, 2020
090619 "Weh, Ga. Gue punya gombalan receh nih buat lo," celetuk Alena yang tiba-tiba memberhentikan langkah Rangga. Rangga menggerutu, "Apaan sih, Len." "Ihh jangan pergi dulu. Tunggu sampe gue selesai bicara ya," ucap Alena. "Gc." pasrah Rangga. "Lo tau ngga?..." Alena menggantung kalimatnya. "Ngga." potong Rangga dan melanjutkan langkahnya. Alena kembali memberhentikan Rangga dengan menarik lengan nya, "Ihh gue belom selesai bicara serangga" "Ya udah gc," pasrah Rangga dengan melipat kedua lengannya di dada. "Lo tau ngga? Kalo misalkan gue sama lo tuh di ibaratkan kaya sosmed sama internet. Lo internet nya gua sosmed nya. Karna kalo sosmed ngga ada internet nya ngga akan bisa berfungsi buat akses apapun. Sama kaya gua yang ngga bisa hidup tanpa lo. Hiyahiyahiya," gombal Alena diakhiri dengan tawa garingnya. "Gaje lo." "Ih lo ngga bisa di ajak receh. Mending gue sama Aldi aja." Alena pundung dan berbalik untuk pergi. "Gue juga ada gombalan buat lo." Rangga mencegah Alena pergi. "Apaan apaan!!" ucap Alena tampak semangat. "Vous êtes comme la lune ... même si vous êtes seul la nuit, mais vous pouvez briller sur votre terre avec votre lumière. et je suis comme une étoile ... qui vous aide à éclairer la terre" jawab Rangga. "Ihh maneh teh ngomong naon? Aing teu ngarti.. bentar gue ngeluarin google translate dulu.. nah coba repeat tadi maneh ngomong naon." wajah Alena menampilkan ekspresi bingung. "Ngga ada pengulangan. Gue cabut." pamit Rangga lalu melenggang pergi dari hadapan Alena yang masih bingung. "Eh, serangga.. semut rangrang.. kurang ajar ya lo bikin gue penasaran," teriak Alena. Rangga hanya melambaikan tangan tanpa mau merespon ucapan Alena. Don't forget to read my story hehhehe.. Mon maap ya msh amatir L u n e by Kimntaan 2019
Todos los derechos reservados
#819
wattpadindonesia
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • How to Survive
  • MANTANKU BOSKU [COMPLETED]
  • ON SIGHT (Completed)
  • You're The Rain I (the injuries sustained) [HIATUS]
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • ALEYA~~
  • My Posesif Brother
  • Too Far to Hold [COMPLETED]
  • BarraKilla
  • The Ice Boy [END]✔️

Riri menyibakkan rambut hitamnya, "persediaan makanan kita menipis. Kita gak bisa bertahan terus di sini." "Tempat yang paling deket dari sini, ke mana?" Abil membersihkan kacamatanya dengan ujung hijab yang sudah tak dicuci berhari-hari. "Supermarket di tengah kota," Azura menjawab dingin sambil menatap kedua orangtuanya terkurung di balik pintu kamar mandi. Pupil Bian mengecil. Semua orang tahu apa yang akan menjadi keputusan Abil. Seketika si gadis tomboy berdiri. "Supermarket itu terlalu luas dan bahaya. Jangan tolol! Nyawa kita cuman satu!" Nawa mengangguk cepat, wajah memerah menahan tangis, napasnya memburu, "aku gak mau ke supermarket! Gak! Gak mau!" "Terus mau gimana? Mati perlahan di dalam sini? Mikir dong! Jangan karena takut, kalian milih mati kelaparan. Perlu ada kanibalisme dulu baru mau keluar?" Mata Abil memerah penuh gelora emosi dari balik kacamata yang engselnya patah akibat pukulan Bian minggu lalu. Azura memutar matanya malas, situasi sialan ini membuat semua orang lebih sensitif. "Udah-udah!" Nayara melerai. "Memungkinkan gak kalau kita cek ke rumah-rumah sekitar? Siapa tau Alex di sana masih tingkat 1. Bian bener, supermarket terlalu luas dan beresiko. Kita coba cari dulu di rumah sekitar, kalau gak ada, baru kita ke supermarket." Seketika ruangan senyap mencerna kalimat Nayara yang selalu bisa menengahi perdebatan mereka. "Jadi, guys sekarang mereka masih diskusi-" "LETTA!!" Bentakan teman-temannya langsung menyentak si gadis ikal. "Le, matiin," pinta Nayara sambil memberi tempat kosong untuk Letta. *** Hidup para remaja itu berubah ketika penyakit tidak jelas mulai menjelajah kota Bandung. Hidup berbulan-bulan tanpa orang tua dengan pola pikir yang masih kekanak-kanakan. Bagaimana cara mereka bertahan hidup dengan 7 kepribadian yang saling bertentangan? Bertemu dengan banyak orang dan berbagai kejadian. Merubah masing-masing mereka jadi sosok lain. Berhasilkah mereka bertahan hidup? Atau semua kembali pada keputusan mereka?

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido