We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Catatan Kecil Ketika Matahari Berniat Pergi

Catatan Kecil Ketika Matahari Berniat Pergi

  • WpView
    Reads 49
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 13, 2019
WpInfo
Non-Fiction
"Kamu benar, kita hanyalah kata, yang kelak hanya akan menjadi cerita. Kita hanyalah sebuah kisah, yang hanya akan terbentang dalam kata pernah. Sekuat apapun kita bertahan, pada akhirnya kita tetap harus melepaskan, kemudian saling melupakan. Namun, bagaimana mungkin bisa kubawa lari hati, sementara dalam sorot matamu selalu kutemukan alasan kenapa aku harus tetap disini." -CatatanKecilKetikaMatahariBerniatPergi
All Rights Reserved
#993
perasaan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jauh. Esok Nanti atau Selamanya
  • You're Here, But Not For Me
  • Takdir Terbaik
  • DALAM DIAM ADA RASA
  • Badai, Kapan Berlalu?
  • NEVER BE THE SAME
  • Jeda Rasa Yang Tak Mereda
  • Traces in the Light
  • The Bleeding Lady [completed]
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)

Bagaimana jika perasaan itu tumbuh tanpa izin, hadir tanpa undangan, dan tinggal terlalu lama dalam hati yang tak pernah disapa? Ini adalah kisah tentang mencintai dalam diam. Tentang seseorang yang tidak pernah diminta untuk datang, tapi jadi alasan untuk bertahan. Harapan yang disimpan rapi di pojok hati, tak pernah diminta untuk dibalas, hanya ingin dimengerti. "Jauh. Esok nanti atau selamanya" bukan sekadar cerita cinta. Ini adalah perjalanan jiwa-tentang perjuangan tanpa jaminan, tentang kehilangan tanpa kata, tentang kecewa yang tak terucapkan, dan tentang harapan yang tetap tumbuh meski tahu ia tak akan pernah dipetik. Jika kamu pernah berharap pada seseorang yang bahkan tak tahu kamu ada, mungkin cerita ini adalah tentangmu juga. Karena mencintai yang paling tulus, kadang justru tak perlu memiliki-cukup mengikhlaskan, dan diam-diam mendoakan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines