Catatan Kecil Ketika Matahari Berniat Pergi

Catatan Kecil Ketika Matahari Berniat Pergi

  • WpView
    Reads 51
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 13, 2019
WpInfo
Non-Fiction
"Kamu benar, kita hanyalah kata, yang kelak hanya akan menjadi cerita. Kita hanyalah sebuah kisah, yang hanya akan terbentang dalam kata pernah. Sekuat apapun kita bertahan, pada akhirnya kita tetap harus melepaskan, kemudian saling melupakan. Namun, bagaimana mungkin bisa kubawa lari hati, sementara dalam sorot matamu selalu kutemukan alasan kenapa aku harus tetap disini." -CatatanKecilKetikaMatahariBerniatPergi
All Rights Reserved
#3
katakataindah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Erlangga
  • Back To You
  • Traces in the Light
  • Antara dosa dan Cinta Pertama
  • Jeda Rasa Yang Tak Mereda
  • You're Here, But Not For Me
  • You're My Heartstrings [SUDAH TERBIT)
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • senja di matamu
  • Badai, Kapan Berlalu?
Erlangga

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines