MENTARI

MENTARI

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 9, 2019
"kenapa kamu begitu suka mentari?" Tanya Agam penasaran. "karena mentari itu setia, dia selalu menyinari bumi tampa kenal lelah." ucapku menjelaskan. "Tapi bukanya ketika malam dia tidak ada! berarti mentari gak setia dong? karena dia pergi di malam hari." ucap Agam. "Dia itu bukan tidak setia tapi dia sedang ada dibelahan bumi lain, sedang menyinari tempat yang belum tersinari. Tapi dia juga akan pasti kembali lagi dari arah yang sama dengan sinar hangatnya." ucapku lagi menjelaskan. maaf jika ceritanya kurang nyambung karena ini cerita pertama saya 🙏.
All Rights Reserved
#364
mentari
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • BULAN (END)
  • Guntur di kala Mentari
  • BULAN
  • feeling of love
  • Epilog Tanpa Prolog
  • [ √  ] AMERTA ¦ Ft Huang Renjun
  • WARISAN
  • KESETIA'AN

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines