SINGAPURA dan KEISYA

SINGAPURA dan KEISYA

  • WpView
    GELESEN 36
  • WpVote
    Stimmen 1
  • WpPart
    Teile 2
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Mi., Juni 26, 2019
Mungkin tidak ada satupun kata yang bisa mendeskripsikan bagaimana hidup Keisya sekarang. Ketika segala sesuatunya mulai indah, ketika ia mulai merangkai kembali kepingan-kepingan yang telah hancur, semuanya kembali menjadi potongan kecil yang terlalu sukar untuk disatukan karena terlalu banyak lekukan dan bagian yang sulit dimengerti dan dipahami. Tidak ada hal yang membuat Keisya istimewa, jabatan, uang, semuanya sederhana, namun tuhan selalu menjadikan hidup Keisya berwarna. Tetapi dengan warna-warna yang tidak elok dipandang mata, apalagi jika dirasakan di dalam sanubarinya. Singapura menjadi saksi bagaimana Keisya meratapi hidupnya. Negara seluas 721,5 km² itu hanya membisu, mencoba diam dan tenang hanya untuk Keisya. Terkadang tuhan memberikan air mata agar rindu dan kecewa Keisya tidak mengalir sendiri dalam sepi. Kalian akan tertawa membaca kisah Keisya yang penuh penderitaan.
Alle Rechte vorbehalten
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • Seratus Meter Dari Hatimu
  • CEISYA (Hiatus)
  • Five Meters To Many Thousands Kilometers
  • Meneroka Jiwa 2
  • Takdir (Bukan) Pilihan
  • Yang Pernah Patah
  • save me
  • (N)ever Be Real [END]
  • Hiraeth ✔ ( END )
  • My Sugarman

Seratus Meter dari Hatimu Dulu, kupikir jarak paling rumit adalah antara dua kota. Antara kampung halaman dan ibu kota. Antara kenyamanan yang kutinggalkan dan dunia baru yang sedang kucoba taklukkan. Tapi ternyata, jarak yang paling sulit bukan soal kilometer atau waktu tempuh. Jarak paling rumit adalah seratus meter dari hatimu-tempat aku berdiri, tapi tak pernah benar-benar kau sadari. Segalanya berawal biasa saja: kos baru, teman sekamar yang bawel tapi hangat, lingkaran pertemanan yang mengisi hariku dengan tawa, tugas, kopi sachet, dan obrolan tengah malam. Aku merasa cukup. Nyaman. Aman. Hingga seseorang hadir dengan caranya yang tak terduga. Terkadang ceplas-ceplos, kadang diam dan terlihat jauh. Dia bukan tokoh utama di hidupku, bukan pula pangeran dalam kisah dongeng. Tapi entah kenapa, perhatian kecilnya terasa seperti rumah dalam keriuhan kota. Sayangnya, tak semua rasa harus tumbuh. Dan tak semua perhatian berarti istimewa. Ini kisahku, Caca. Seorang mahasiswi yang mencoba bertahan di antara tumpukan tugas, tawa tongkrongan, dan teka-teki bernama Arvin. Ini tentang dua circle pertemanan, dua sisi dunia, dan satu rasa yang pelan-pelan ingin ku bungkam. Karena terkadang, menyukai seseorang tak harus dimiliki. Cukup dilihat dari kejauhan-seratus meter, atau bahkan lebih.

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien