Mr. Guard!, Lets we fight!!

Mr. Guard!, Lets we fight!!

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 18, 2019
Petualangan mana lagi yang belum kucoba?. Sampai kematian sekarang bukan lagi milik sang waktu. Dunia yang membentuk hati keras ini. Kini hitam yang pekat perlahan menghilang, dengan datangnya warna asing hangat. Seperti paku yang menemukan palu untuk menghancurkan kelamnya hati. Damn!, sejak kapan kematianku berpindah tangan? Berani-beraninya 'dia' memainkan hidupku.. Bagaimana 'dia' membuat ku tak bisa jauh darinya? Sejak kapan 'dia' menjadi candu yang menenangkan?.. Kini kapal perlahan menemukan jalan pulang dan memastikan akan selalu dekat dengan dermaganya Begitupun diriku selalu memastikan 'dia' akan selalu ada saat matahari terbit dan tenggelam di pelukanku.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Secarik Kertas Pengantar Tidur
  • Titipan Jantung Untuk Gladis
  • Ku ingin keluarga yang sempurna
  • A WEDDING STORY
  • IF YOU
  • THE DARK CEO (COMPLETED)
  • ABELIA
  • Butterfly Effect

Kini malam adalah sahabat sekaligus algojo bagi Naka. Seribu sembilan puluh lima kali matahari telah terbenam sejak hari itu-seribu sembilan puluh lima kali kegelapan datang menghampiri, membawa serta kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Dia mencoba segalanya. Minum susu hangat sebelum tidur. Menghitung domba hingga angka yang tak masuk akal. Bahkan meminum pil tidur yang membuat kepalanya berat seperti batu. Tapi tak satu pun berhasil mengusir bayangan itu-bayangan seorang wanita dengan senyum yang dulu mampu menerangi kegelapannya. "Tuhan," desisnya malam ini, suaranya parau seperti kertas yang tergores. "Aku mohon... biarkan aku tidur tanpa mimpi. Hanya untuk sekali ini saja." Bantalnya basah sebelum ia menyadari air mata yang mengalir. Tangannya mencengkeram erat-erat kain itu, seolah takut suara hatinya yang pecah akan terdengar oleh dunia. Tiga tahun. Waktu yang cukup untuk menyembuhkan luka, kata orang. Tapi mengapa lukanya justru semakin dalam? Bertemu Vanya dulu seperti menemukan oasis di tengah gurun kehidupan. Wanita itu memberinya warna-warna yang tak pernah ia kenal sebelumnya-kuning cerah tawa mereka di Bromo, biru tenang obrolan larut malam, merah jambu pipi Vanya saat marah. Tapi sekarang? Semua berubah menjadi abu-abu. Kenangan itu berubah menjadi kutukan. Setiap kali ia menutup mata, yang terlihat adalah wajah Vanya yang hancur saat terakhir kali mereka bertemu. "Kalau ini yang terbaik untukmu, Nak, aku ikhlas." Dan kebodohan-oh, kebodohannya yang tak termaafkan! Malam ini, Naka menyerah. Dia mengambil buku kecil yang tersembunyi di bawah bantal-saksi bisu dari semua penyesalan yang tak terucap. Halamannya sudah keriput oleh air mata dan jari-jari yang gemetar. Naka menutup buku itu perlahan, seperti menyimpan kembali potongan jiwanya yang tercecer. Di luar jendela, Jakarta masih berdenyut dengan lampu-lampunya yang tak pernah tidur. Tapi di kamar ini, yang ada hanya seorang lelaki dan malam yang tak pernah benar-benar berakhir.

More details
WpActionLinkContent Guidelines