Emili
  • WpView
    Reads 127
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureComplete Fri, Jun 14, 2019
WpInfo
Fiction
Action and Thriller
"Mil, tangan lo..." Ikbal menatap Emili nanar, tiba-tiba Emili memegang pergelangan tangannya dengan erat. "Bal, tolong lo lepasin ikat tangan yang ada ditangan gue." Ikbal meraih tangan kanan Emili tanpa bertanya apapun, dan mulai melepaskan ikat tangannya. "Sekarang lo ikatkan ikat tangan tersebut ketelapak tangan kiri gue!" "Apa?! Emili, gue gak bisa! yang ada tangan lo tambah sakit!" "Gak apa-apa, cepat lakukan." *** Dokter Evan memeriksa keadaan Emili, tiba-tiba Emili membuka matanya dengan perlahan. "Saya dimana?" tanya Emili masih berusaha mengingat kejadian yang menimpa dirinya sebelumnya. "Kamu dirumah sakit. tenang, yah? kamu jangan khawatir, kamu akan baik-baik saja." "Dokter Evan? Dok, Ikbal mana? apa dia baik-baik saja?" Dokter Evan menatap Emili sendu, hatinya merasa cemburu ketika Emili menanyakan sosok Ikbal. *** Dalam perjalanan hidupnya, mampukah Emili menemukan sosok yang bisa mengubah kepribadiannya? siapa kelak yang akan dia pilih, Dokter Evan? atau Ikbal?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Heartbeat [ Completed ]
  • The Best Part (Completed)
  • Boyfriend
  • Stuck WIth You! (Tamat)
  • Caramel Maskiato - END (KaryaKarsa)
  • SAH (Menikah Dengan Mantan)
  • Tynged (New Version)
  • The Unseen
  • Love Circle
  • Angel

Abela, dokter spesialis jantung dengan karir cemerlang. Punya banyak fans, sayangnya playgirl. Eits, playgirl bukan sembarang playgirl, bukan doyan gonta-ganti cowok, tapi cewek. Sekali lagi... cewek! Cantik, tinggi, pinter, bodinya... auranya... wuh, siap2 belok deh. Marsya, abg yang menjelang dewasa. Punya hobi unik, selalu daftar jadi pasien hampir setiap hari cuma untuk bertemu dokter Abela. ---------------- "Kayaknya jantung saya makin gak sehat dok." "Kamu sehat. Jantung kamu sehat. Sama seperti kemarin, kemarin lusa, kemarinnya kemarin, dan kemarin kemarin sebelumnya." "Ih serius deh dok, jantung saya selalu ngajak perang tiap natap mata dokter, jedug-jedugnya gak selow. Kayaknya saya gagal jantung deh dok." "Kamu harusnya ke spesialis saraf bukan jantung, kayaknya saraf kamu ada beberapa salah tempat." "Ah dokter, tau saya luar dalam. Jadi terharu."

More details
WpActionLinkContent Guidelines