Suami Idiotku [On Going]

Suami Idiotku [On Going]

  • WpView
    Reads 163,737
  • WpVote
    Votes 10,321
  • WpPart
    Parts 29
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 20, 2022
"Kamu cantik. Tapi, kenapa pakai penutup wajah?" Kuterima suapan dari tangan suamiku, setelah ku kunyah habis bakso itu. Dibalik cadar aku tersenyum. "Mas Daiyan, tau nggak?" Ia geleng-geleng polos, "Aku pakai penutup wajah demi, Mas." Memang, alasan ku itu. Bahkan sebelum aku menikah. Dahinya berkerut, ih cute banget. "Kok demi, Mas?" Aku pegang kedua tangannya yang sudah terlipat rapi di atas meja. "Makasih, Mas. Udah bilang aku cantik, karena yang berhak menikmati wajah cantikku ini cuman, Mas seorang!" Ku lihat pipinya memerah juga telinganya, maa syaa Allah..., mau seidiot apapun kamu mas. Sungguh, aku tetap cinta, karena kamu jodohku. Karena Allaah sudah mentakdirkanku denganmu, karena Allaah sudah memberikan cinta kepadaku untukmu. Nggak apa-apa kalau aku harus terus merawatmu sepanjang usiaku, karena memang istri harus mengabdi pada suami. Aku terima apa yang sudah menjadi takdirku. Anna uhibbuka fillah Mas Daiyan. -Maisara Lafiza ●REVISI SETELAH TAMAT●
All Rights Reserved
#197
idiot
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DI DUAKAN KEMUDIAN AKU DI DEWIKAN
  • Takdirku Adalah Bersamamu
  •  bisikkan di sepertiga malam ku
  • Ikhtiar Menjemput Cinta [REVISI + END]
  • Takdirku Untukmu (END)
  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • Stuck In H2SO4~Completed
  • Kami yang Berdosa
  • Kutunggu Hijrah Subuhmu (TERBIT)✅
  • Story Love  Of Aisyah Guz Adnan🍁 ( Slow update)
  • Maaf, Cakra!
  • Ali & Fatimah
  • JANGAN PANGGIL AKU LARAS
  • Assalammualaikum, Ustadz [END]
  • ZAHRA
  • Jejak wasiat kakakku
  • ALA

Gibran: "Sayang.. mas minta maaf, kamu jangan diam saja seperti ini, silah kan tampar atau kamu pukul saja badan mas sayang". Suara mas Gibran terdengar serak sambil menahan tangis. Terlihat mukanya merasa sangat bersalah. Mendengar perkataan mas Gibran, aku yang tadinya diam seperti robot, tiba-tiba mulai bereaksi dengan emosi yang memuncak. Tanpa sadar tanganku melayang menampar pipi mas Gibran. Kemudian aku memukul dadanya beberapa kali. Beliau kaget tapi tidak berusaha membalas perlakuanku kepadanya. "Aku benar-benar tidak menyangka mas!, kamu tega, sangat tega!. Semua perlakuanmu, kasih sayangmu bahkan semua perhatianmu selama ini ternyata palsu!", teriakku sambil menangis pada mas Gibran. "Kamu benar-benar jahat!". "apa kesalahanku sampai kamu setega ini mas!". "Aku benci sama kamu!". Teriakku kencang sambil memukul-mukul dadaku sendiri. Mas Gibran hanya diam melihat luapan emosiku yang memuncak. Kemudian tangannya berusaha memelukku, tapi aku langsung menepis tangannya menghindar, kemudian menjauh ke pojok tempat tidur.

More details
WpActionLinkContent Guidelines