Story cover for Bingkai hati by UlyaFahmyIstiqomah
Bingkai hati
  • WpView
    LECTURAS 7
  • WpVote
    Votos 1
  • WpPart
    Partes 2
  • WpView
    LECTURAS 7
  • WpVote
    Votos 1
  • WpPart
    Partes 2
Continúa, Has publicado jun 11, 2019
Setelah kuselipkan kata,
Tak perduli seberapa kuat ia
Bingkai-bingkai yang telah retak dimakan usia
Terlalu lama mengenang rasa yang begitu dalamnya

Oh hati, perlukah kurekatkan kembali
bingkai yang telah usang karna usia?
Atau perlu ku cari bingkai hati yang lain?

Tidak! 
Bukan mudah mencarinya,
Bukan mudah menemukannya.

Ulya, 12 Juni 2019
Todos los derechos reservados
Regístrate para añadir Bingkai hati a tu biblioteca y recibir actualizaciones
O
Pautas de Contenido
Quizás también te guste
Quizás también te guste
Slide 1 of 10
MATI RASA cover
bertahan dari semua luka cover
Sunshine (Hoseok x you) cover
ngger adalah vandyku cover
Tentang Kita cover
Ik Hou Weer Van Je cover
Gone Love.-vrene cover
HAPPY ENDING [ Mewgulf ] END✓ cover
Segala Tentangmu ❝ cover
TURNING 20!!! cover

MATI RASA

32 partes Continúa

Hanya sebuah pertemuan tanpa kata, namun cukup urituk membuat Ziya dan Azain saling menemukan dunia baru. Di sana, di antara aroma kertas dan keheningan koridor, sebuah rasa mulai tumbuh. Namun, mencintai Azain ternyata tidak semudah menggambar sketsa di atas kertas. Ada jurang perbedaan antara keluarga, ada pun restu yang menghambat, dan ada kecemburuan yang sering kali menusuk tanpa permisi. Saat kelulusan tiba, sebuah janji diikat erat. Mereka percaya bahwa jarak antara dua Sekolah Menengah Kejuruan yang berbeda tidak akan mampu mengikis rasa. Namun, Ziya keliru. Dunia SMK yang baru ternyata membawa angin yang berbeda bagi Azain. Bersama seragam barunya, hadir pula sosok perempuan lain yang perlahan menghapus jejak Ziya dari ingatan laki-laki itu. Tentang cinta yang berawal dari ruang Tata Usaha, tentang keluarga yang tak sejalan, dan tentang sebuah janji yang akhirnya luruh saat sosok baru menjadi pemenang. Apakah Ziya harus tetap menggenggam sisa-sisa kenangan, atau membiarkan pensilnya menggoreskan takdir yang baru? -Anaqilla Ziyana