Cinta Satu Atap

Cinta Satu Atap

  • WpView
    Reads 1,998
  • WpVote
    Votes 110
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Aug 12, 2021
Sequel dari cerita Azalia Istri Seorang Mafia. Warning 18+ bijak dalam memilih bacaan. "Apa benar bahwa cinta hadir karena dua insan telah terbiasa? Jika itu benar, maka aku sangat bersyukur sebab bertemu dengannya." Gianna Alleva FR. "Aku sudah bekerja keras untuk ini. Tolong jangan kecewakan aku," kata gadis itu sebelum mendarat di kursi depan Azzima. Azzima menarik napas panjang seraya melipat kedua tangan di depan perut. Kemudian dia menghembus damai. "Silahkan," kata pria itu. Gianna menatap pria itu intens, mencoba untuk menarik perhatian, setidaknya sampai pria itu luluh dan mempermudah semua urusannya di mata kuliah ini. Namun dia gagal total sebab Azzima tak mengubah raut wajahnya sama sekali meski kedua mata pria itu membalas tatapannya. Gianna menelan saliva, entah mengapa malah dirinya yang kembali terjerumus dalam pesona pria itu. Dia menggigit bibir, beberapa kali sudah napasnya terhembus, mendesah kecil sebab hormon di tubuhnya meningkat. "Waktumu tiga puluh detik dari sekarang," ucap Azzima dengan tatapan datarnya, membuyarkan rencana gadis itu. "A-apa?" Gianna terperanjat. Azzima menumpukan kedua tangannya yang terpaut di atas meja, lalu sedikit mengikis jarak di antara mereka. "Kau sedang mencoba menggodaku?" "Hah?" Gianna terkejut. Namun gadis itu pura-pura tidak tahu. Kini kedua matanya hanya terfokus pada mata pria itu. Tegukan saliva kembali Gianna lakukan. Hal itu terjadi sebab wajah Azzima semakin mendekat ke arahnya. "Jangan ulangi hal itu, atau kau tidak bisa berjalan selama seminggu," ucap pria itu, serius. "Keluar dari ruanganku," tambahnya. Tanpa berpikir panjang Gianna bangkit dari tempat duduk. Tiba-tiba gadis itu kepanasan, otak bekunya sampai mencair tetapi seketika berhenti berpikir. Segera dia berlari menuju ke toilet. Follow author sebelum baca
All Rights Reserved
#7
suamidingin
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ✓ Nyonya Ji Ingin Bercerai
  • Males, ribet.
  • ZAVI & AZA
  • After Sunset
  • The Man
  • A For Z : Young Married [SLOW UP, CUTI LAHIRAN DULU GAES]
  • LYVARU
  • AKSARA Garis Pertemuan
  • Blooming Days

Penulis: Yi Qingmang • 71 Bab Kakek Ji sakit parah, dan keluarga Ji bertengkar di dalam keluarga. Ibu Ji Shi meminta Ji Shi segera menikah demi menyenangkan kakeknya. Tak disangka, Ji Shi yang selalu benci dijodohkan, justru menyetujuinya. Dia sedang bekerja, mengetik di keyboard tanpa mengangkat matanya, "Aku menikah dengan Jing Jing." Sosialita yang mencoba menikah dengan keluarga Ji berpikir masam bahwa orang yang dingin dan sombong seperti Tuan Ji, yang lahir di pasar rias dan terlahir kejam serta berdarah dingin, tidak cocok menjadi seorang suami. * Jing Jing telah mengejar Ji Shi selama tujuh tahun, Ji Shi berpikir bahwa dia mengabdi padanya dan tidak akan pernah meninggalkannya apapun yang terjadi. Setengah tahun kemudian, dia mengetahui tujuan pria itu menikahinya dan dengan marah menampar wajahnya dengan perjanjian perceraian. * Jing Jing belajar di luar negeri selama tiga tahun. Pada hari dia kembali ke Tiongkok, Ji Shi dengan paksa membawanya pergi dari bandara. Dia ingin menekannya ke dalam tulang dan darahnya. Dia menciumnya tanpa malu-malu dan berbisik ke telinganya: "Kamu sudah dewasa, Nyonya Ji, dan kamu ingin bercerai kecuali aku mati." Jing Jing mengertakkan gigi: "Ji Shi, kenapa kamu begitu bau dan tidak tahu malu!" Ji Shi mengangkat alisnya sedikit, mengangkat sudut mulutnya, dan bertanya, "Apakah bau itu berkeliaran di kepalamu tanpa malu-malu?" Jing Jing: Bagaimana aku bisa menghentikan pria jalang ini menggunakan kata-kata kotor yang kuucapkan padanya saat aku masih muda dan cuek? Ji Shi: Kamu terus mengatakan kamu mencintaiku selamanya. Ah! wanita! Teater kecil: Dalam sebuah wawancara, seorang reporter bertanya kepada Ji Shi: "Tuan Ji, siapa yang bertanggung jawab di keluargamu?" Ji Shi mengerutkan bibirnya dan berkata perlahan: "Jing Jing yang membuat keputusan." Setelah jeda, dia menambahkan: "Kecuali perceraian, aku akan mematuhinya." Jing Jing: ...Kamu pembohong, terkadang kamu juga tidak mau mendengarkanku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines