"Don't go where I can't follow."
Mungkin itu yang selama ini ada di benak Yuki (30yo) setiap kali bayangan Al hadir dibenaknya. Yuki mencintai Al, sangat mencintai laki-laki itu, bahkan lebih dari dia mencintai dirinya. Sehingga ketika Yuki sudah memilih untuk mendampingi laki-laki yang dicintainya itu dan ikut kemanapun dia pergi, Al justru pergi ke tempat yang Yuki bahkan tidak bisa datangi, sejauh apapun jalan yang dia tempuh. Sehingga sampai suatu saat Yuki bisa menyusulnya, dia akan tetap disini, diam, menunggu, sampai dia lupa caranya bahagia lagi.
Tetapi, dalam prosesnya menunggu, hadir Stefan (32), yang ingin menjemput Yuki kembali ke kenyataan. Ingin menyadarkannya bahwa masih banyak kebahagiaan diluar sana, menunggunya untuk meraihnya. Namun Yuki yang terlalu nyaman dengan kesedihan, membuatnya menolak Stefan, menolak bahagia, dan menolak hidup. Sampai mungkin nanti, ketika bayangan Al benar-benar menjemputnya.
....Atau mungkin justru ketika bayangan Al ternyata malah meninggalkannya ketika Yuki jatuh cinta lagi.
Bagaimana rasanya saat dihadapkan pada dua orang yang sama-sama berarti untuk hidupmu.
Siapa yang akan kamu pilih saat diharuskan memilih?
Ini tentang bertemunya tiga orang manusia dalam cinta yang sama.
Yuki harus dihadapkan pada mantan kekasih yang masih disukainya, Arka. Juga sosok cowok yang selalu menemaninya disaat terpuruk, Luthfi.
"Pokoknya pikirin aja dulu baik-baik, lo harus berani ngambil resiko, karena gimanapun lo nggak bisa dan nggak boleh milikin dua-duanya, meskipun lo ngerasa suka sama dua-duanya, pasti di lubuk hati lo yang terdalam, ada salah satunya yang paling lo suka, dan itu tugas lo untuk tahu siapa itu," ucapIfi.
Dibumbui juga dengan konflik keluarga dan persahabatan.
Let's go reading!!♡
NOTE : Cerita yang saya buat, semuanya murni pemikiran saya sendiri, tanpa sedikitpun campur tangan orang lain. Jika kalian ada yang menemukan cerita serupa di platform cerita manapun dan bukan atas nama Twilight dan Lisdayanti, segera beritahu saya karena itu adalah PLAGIAT!!
Copyright Lisdayanti, 2020