Story cover for Speechless by azdrasa
Speechless
  • WpView
    Reads 18
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 3
  • WpView
    Reads 18
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 3
Ongoing, First published Jun 16, 2019
Kanon dan Literer Sastra memang bukan milik perempuan. seperti halnya tatanan dunia, konvensi sastra dikuasai oleh laki-laki. Tapi itu dulu. Sekarang, klaim itu sudah basi. Penulis perempuan bermunculan membawa bahasa mereka sendiri dan sering kali mengabaikan keberadaan konvensi.

Raisya, remaja yang berusia 17 tahun yang baru pertamakali menjajakkan kakinya ditempat baru ini banyak mengambil pelajaran hidup yang ia ambil dari sudut pandang yang berbeda. Salah satunya adalah dengan mengamati hidup orang-orang yang berada disekitarnya. Seiring dengan berjalannya waktu, Raisya mampu memahami arti kehidupannya. Bukan untuk dunia semata, semua yang hidup didunia ini akan kembali kepada sang pencipta. Kehidupannya pun lambat laun mulai berubah, bukan kearah yang negatif, melainkan kearah yang lebih positif dan paham akan kutipan seseorang tentang "Dunia ini Fana, maka yang kekal adalah Akhirat".

Perjalanannya tentu tidak mudah, tarik ulur kepercayaan serta keyakinan adalah taruhannya. Banyak tantangan yang dihadapi oleh Raisya salah satunya untuk menghancurkan kebatuan serta mencari apa kemauan dalam diri Raisya yang sebenarnya.
All Rights Reserved
Sign up to add Speechless to your library and receive updates
or
#12kekal
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 9
Akala cover
ALKAVI (REVISI BERTAHAP) cover
Rayyan Etherium Fractus cover
My Love A Turki cover
Possesive Playboy cover
Mari Saling Bicara cover
The Spaces Between Our Words (TAMAT)  cover
Surat MISTERIUS ✔️ cover
The Silent Code: Shadow of Betrayal cover

Akala

8 parts Ongoing

"Buku selayaknya dunia fana, bedanya kekal." Tulis si Penulis yang membingungkan di secarik kertas. Tak terkecuali untuk Akula Samuhita, si ahli dalam bersikap apatis. Namun untuk pertama kalinya terusik. Akula tergerak untuk memahami makna dari kata-kata si Penulis. Buku seperti dunia yang luas. Memang Akula akui jika buku bisa menjadi seluas dunia, bahkan alam semesta sekalipun asalkan mampu menuangkan ide dengan baik. Tetapi, apalah arti mampu menuangkan ide dengan baik jika tak satupun hal baik terlahir bahkan hidup karenanya. Kemudian dilanjutkan dengan fana, yang artinya sementara, tidak tetap. Siapapun yang percaya akan konsep Ketuhanan, sudah pasti tahu konsep kefanaan dunia pula. Dunia hanya tempat persinggahan, dan bukanlah apa-apa. Karena semua, pada akhirnya akan mati. Lenyap begitu saja, tersisa tubuh yang membusuk di tanah. Lalu diakhiri oleh kekal. Yang artinya abadi, selamanya. Namun, benarkah kekal? Akula tersadar, berawal dari rasa apatis yang menggerogoti. Hingga menampakkan nestapa dalam bentuk waktu.