Alone In Magic

Alone In Magic

  • WpView
    Reads 56
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Oct 12, 2019
Namaku Clara Fransisca sejak kecil aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah maupun ibu. Waktu itu Ibuku meninggal saat melahirkanku. Dan Ayahku menyalahkan ku atas kematian ibuku. Saat itu aku menginjak usia 18 tahun. Dan disitulah takdirku berubah. Awalnya aku ragu dengan dunia sihir, aku hanya mengaggap itu adalah dongeng. Namun siapa sangka aku bahkan bisa menjelajahi kedalam dunia itu. Hingga aku dipertemukan dengan belahan jiwaku yang sempat terpisah begitu lama Hello guyss Thanks ya untuk kalian yang baca. selamat menikmati
All Rights Reserved
#696
clara
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rasa di Dunia yang Terlupakan
  • I Will Change My Destiny
  • Olif from Dejua
  • The Magic Stone: Crystalball [END]
  • 𝐎𝐁𝐒𝐄𝐒𝐒𝐈𝐎𝐍 [ 𝚂𝚕𝚘𝚠 𝚄𝚙𝚍𝚊𝚝𝚎 ]
  • Mage Academy
  • Call Me, Sebastian [END]
  • Necklace Crystal Magic [Slow Up]
  • New World [REVISI]

Di ujung lorong dunia yang tak terjamah peta, berdirilah sebuah restoran kecil-hangat, remang, dan ajaib. Tak ada papan nama, tak ada antrean manusia. Namun malam demi malam, kursi-kursi kayu diisi oleh tamu-tamu dari kisah yang terlupakan: Banshee yang menangis dalam diam, Putri Duyung yang kehilangan nada, Gumiho yang menyembunyikan luka, hingga dewa bersayap yang tak sanggup berbicara. Di balik meja dapur, seorang pria memasak bukan untuk perut, melainkan untuk jiwa. Ia tak banyak bicara, namun masakannya menampung kisah dan luka mereka. Di sisinya, seorang wanita bernama Lyra menjadi jembatan antara dunia manusia dan dunia magis-seorang penjaga rasa dan kenangan. Namun restoran ini menyimpan rahasia. Pembayaran tak datang dalam bentuk uang, melainkan item magis penuh arti-dan semakin banyak yang datang, semakin besar bayangan yang menanti. Dulu mereka memasak hanya untuk bertahan hidup. Kini, mereka menyajikan rasa untuk makhluk yang bahkan dunia pun enggan mengingat. Namun... Sampai kapan tempat ini akan bertahan? Dan ketika rasa tak lagi cukup, siapa yang akan memberi arti pada dunia yang perlahan melupakan?

More details
WpActionLinkContent Guidelines