Aku & Kanker

Aku & Kanker

  • WpView
    Reads 5,484
  • WpVote
    Votes 210
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadMatureComplete Sat, Jul 13, 2019
Aku adalah pengidap kanker otak, Dengan kanker yang ada di dalam kepala sudah menginjak stadium 3 aku selalu berusaha terlihat baik - baik saja walau susah untuk disembunyikan, merepotkan memang .... ibarat bom waktu yang siap meledak kapan saja jika tuhan menekan tombol controlnya, sekarang yang aku lakukan hanya melawannya dengan keberuntungan yang terbilang kecil namun tidak juga mustahil. herannya dengan kondisi yang siap membuat ku koma bahkan meninggal kapan saja untungnya aku masih bisa beraktivitas seperti biasa, tertawa jika teman memberikan lelucon dan marah jika kalah main game hahahhahahaha ya setidaknya emosi ku masih normal. Oh iya, Nama saya wisnu ari wardana kelahiran jakarta 18 september 1998. Sekarang saya tinggal di Bali, hmzz siapa sih yang nggak tahu Bali. Pulau yang dengan sejuta destinasi wisata nya, tapi kali ini saya nggak bakalan nyeritain bagaimana menakjubnya bali atau kemana saja saya jalan-jalan ketika dibali, melainkan menceritakan perjalanan hidup saya yang ingin saya bagikan kepada teman-teman semuanya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jejak wasiat kakakku
  • Time For Opportunity
  • RED CITY : ISOLATION
  • Semangat Ku - Kekuatan Ku
  • PERJODOHAN PAKSA ( END )
  • Hidup Wanita Tulang Kuat dalam Keluarga 380°
  • TAKDIR ANGELINA CHRISTY (END)
  • don't leave daddy CH2 (END)
  • Okay, We're Married on July
  • It's Okay, Kamu Normal !

Namaku Alya. Dan aku tidak pernah menyangka bahwa langkah kakiku suatu hari akan menggantikan jejak perempuan paling kuat yang pernah aku kenal: kakakku, Alisa. Sudah hampir setahun aku tinggal di rumah besar bercat abu muda itu, rumah yang dulunya hanya aku singgahi saat libur semester atau ketika merindukan masakan kakakku. Tapi sejak Alisa divonis kanker paru-paru stadium lanjut, rumah itu menjadi dunia baruku. Aku memilih cuti kuliah, meninggalkan kosan kecilku di Jogja, dan kembali ke kota ini-demi merawatnya. Aku masih ingat hari ketika pertama kali datang kembali ke rumah itu. Anak-anak Alisa, Rani dan Dafa, langsung berlari memelukku. Rani sudah kelas dua SD, dan Dafa masih TK. Mereka belum tahu betapa besar badai yang sedang menunggu kami semua. Dan di tengah rumah itu, ada sosok pria yang paling jarang bicara: Rayhan. Suami Alisa. Kakak iparku. Ia selalu tenang. Terlalu tenang, bahkan saat Alisa harus masuk rumah sakit untuk ketiga kalinya bulan itu. Ekspresinya nyaris tidak berubah-datar, kaku, dan kadang membuatku bertanya-tanya apakah ia benar-benar mencintai kakakku atau hanya hidup berdampingan karena kebiasaan. "Mas Rayhan, teh hangatnya," kataku malam itu, sambil meletakkan cangkir di meja. Ia hanya menoleh sekilas. "Makasih." Lalu kembali tenggelam di balik layar laptopnya. Begitulah Rayhan. Ia tidak pernah kasar, tidak pernah marah, tidak pernah meninggikan suara. Tapi juga tidak pernah benar-benar hadir. Ia adalah tipe laki-laki yang, entah kenapa, membuat dada terasa sesak hanya karena terlalu hening. Sementara itu, kondisi Alisa kian memburuk. Berat badannya turun drastis, rambutnya mulai rontok karena kemoterapi, dan batuknya sering berdarah. Tapi ia tetap tersenyum. Tetap berusaha mencatat tugas-tugas sekolah Rani, tetap memeluk Dafa sebelum tidur. Suatu malam, saat aku menemaninya di kamar, Alisa mem

More details
WpActionLinkContent Guidelines