KALA ITU CERITA USAI

KALA ITU CERITA USAI

  • WpView
    Membaca 7,880
  • WpVote
    Vote 757
  • WpPart
    Bab 47
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Rab, Des 13, 2023
Ramai yang sepi. Setiap harinya aku dihadapkan dengan kenyataan bahwa aku akan bertemu banyak orang. Setiap harinya juga selalu kutanyakan "Apa mampu aku membaur dengan mereka?" Suara bising dari mulut mereka nyatanya lebih keras dibandingkan nyaliku untuk berani memulai obrolan. Isi kepalaku selalu mempertanyakan "Apa ya topik pembicaraan yang sekiranya mereka bakal suka engga ya?" "Ah aku takut kalau mereka bosan." Setiap halnya selalu kucoba untuk selalu menjadi menarik, dan sempurna. Tapi nyatanya hal itu ga selamanya baik. Karena inilah akhirnya aku memilih untuk diam, mengunci rapat mulutku dan berperan hanya sebagai pendengar. ••• Hanya seuntai isi kepala yang berisik yang ingin diabadikan.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#224
word
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • BarraKilla
  • bilang sayang, enggak susah.
  • GARIS TAKDIR
  • Dermaga Tua
  • Menerobos Kabut Merah
  • Black Rose
  • Tentang Pemimpi (Kisah Meraih Beasiswa LPDP)
  • Plot Twist - Hartono's Fam [END]
  • "ARGON" Untukmu Bidadari Hatiku
  • Rasa Tanpa Kata

LENGKAP! Follow akun ini sebelum baca🐧 Warning! Peringatan! Cerita ini bisa membuat kalian mengumpat, menangis, dan tertawa (jika satu SELERA)🍭 "Barr, aku juga nggak tahu kenapa Raden nyium aku." "Shit! Diem, Bego!" "Maaf." "Tahu nggak, kenapa gue nerima lo jadi pacar gue? Padahal lo yang nembak gue duluan di UKS dengan nggak punya malunya." "...." "Lo itu menyedihkan, Killa. Sangat menyedihkan. Gue selama ini cuma.... kasihan sama elo." "Barra, dada aku sakit." "See? Lo minta dikasihani lagi?" "Maaf." "Dan lo selalu mengatakan maaf biar lo semakin dikasihani." "Barra, kamu beneran mau aku pergi?" "Lo masih mau di sini? Nggak tahu diri banget. Habis ciuman sama suami orang, masih mau sama gue. Karena cuma gue yang bisa ngasih lo segalanya. Gue jijik sama elo." "Makasih, ya, udah mau jadi pacar Killa. Udah mau bahagiain Killa. Hehehe. Kita akhirnya pisah." "Gue nggak mau lihat lo lagi." "Hehehe." "...." "Barrabas Mahesa, makasih udah pernah jadi yang terbaik buat Killa." I loved, and I loved and I lost you. I loved, and I loved and I lost you. I loved, and I loved and I lost you. Titik tertinggi mencintai adalah tahu diri untuk menerima sebuah kehilangan. "Barra, kenapa cara kamu mencintai aku kayak gini?" • Demi kenyamanan Anda saat membaca, disarankan memfollow akun penulis terlebih dahulu. • Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dalam cerita ini tanpa izin tertulis dari penulis. Semua yang ada dalam cerita ini murni hasil pikir penulis, maaf jika ada kesamaan nama, tempat, karakter, dan sebangsa itu. Selamat membaca!

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan