Sabtu
  • WpView
    LECTURES 2,463
  • WpVote
    Votes 276
  • WpPart
    Chapitres 18
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication sam., nov. 16, 2019
[Update setiap hari Sabtu] Alsabtu Crystalia ... seorang gadis yang membenci hari Sabtu, apa pun yang berhubungan dengan hari Sabtu. Melupakan tugas sekolah, galau-galauan ala jomlo, maupum kencan malam Minggu bersama pacar. Dia membenci semua itu, termasuk ... namanya sendiri. Alsa sangat tidak suka jika ada yang memanggilnya Sabtu, jika ada yang dengan sengaja dan berulang kali menyebut, maka tak segan-segan ia layangkan bogem mentahnya. Bukan karena alasan, tapi mimpi itu seperti kaset rusak yang berputar berulang kali. Alsa muak, seringkali ketakutan datang memorak-porandakan dirinya, membuatnya makin benci pada 'Sabtu'. Misteri dalam mimpi itu harus terpecahkan, entah bagaimana caranya, dia tidak ingin seumur hidup dihantui mimpi mengerikan. ~ Author : @virdacindy Nice cover by :@rakalasenja
Tous Droits Réservés
#13
alsa
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • ALZEA : FEATURED SOULS [END]
  • ARSAV
  • Misteri Lorong Di Tingkat Tiga
  • The Pendant (On Going)
  • TWO SOULS [SELESAI]
  • AYO MOVE ON!
  • Silent Boyfriend [SELESAI]
  • Elsa
  • Love Or Hate(End)
  • ALESA|the beauty indigo (END)

Algesa liar, berantakan, dan terlalu akrab dengan kehancuran. Zea cantik, tapi matanya menyimpan luka yang tak bisa dijelaskan. Orang-orang berkata hidup adalah soal pilihan. Tapi bagi Algesa Axeliano Ravanaugh, hidup hanyalah sisa napas dari keputusan orang lain. Ia tidak pernah meminta untuk dilahirkan, apalagi tumbuh besar di rumah yang dipenuhi darah, teriakan, dan kebohongan. Setiap langkah yang ia ambil adalah pelanggaran. Bocah pemberontak yang menantang dunia karena dunia lebih dulu menghancurkannya. Ia melawan. Melawan dunia yang telah merenggut Bundanya. Melawan ayah yang seharusnya sudah terkubur sejak lama. Malam itu, di jembatan tua yang dingin menusuk tulang, Algesa tidak mencari apa pun. Ia hanya ingin diam. Tapi justru di sana, dalam gelap yang lengang, ia menemukan sesuatu yang tak terduga, sepasang mata yang tak asing. Bukan karena ia mengenalnya. Tapi karena luka yang tersembunyi di balik sorotnya terasa terlalu akrab. Zea. Ia bukan gadis baru. Bukan pula gadis baik-baik. Tapi ada sesuatu dalam caranya berdiri, dalam diamnya yang membatu, yang membuat Algesa terus melangkah. Bukan karena ia cantik. Tapi karena ia rusak. Sama seperti dirinya. "Kenapa... lo nolongin gue?" tanyanya lirih, tubuhnya gemetar tak hanya karena dingin, tapi juga karena luka yang terlalu lama disimpan. Algesa menatapnya lama, diam tanpa ekspresi. Petir menyambar di kejauhan, memperjelas gurat tajam di wajahnya yang basah. Tapi kemudian sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai kecil, dingin, ambigu, tapi entah mengapa terasa jujur. "Mungkin karena gue suka ngerusak hal-hal yang hampir rusak." ALZEA : 05. April. 2025 By : Rossa Ig : @rossaroxie @_chaterinee

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu