Tanpa Tepi, Tanpa Tapi

Tanpa Tepi, Tanpa Tapi

  • WpView
    Reads 69
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 23, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
"Ki? Lu balikan sama dia?" "Iya, kenapa emang?" "Gila ya, Udah berapa kali lu putus? tapi ujungnya balik juga" "Awet Rajeg namanya" "Btw dia kan sekarang ketua Rohis, mana boleh pacaran" . . . . Rumit bukan? Namun memang benar adanya. Orang bilang kesempatan hanya datang dua kali. Sepertinya itu tidak berlaku bagiku. Entah aku yang bodoh atau aku yang terlalu baik. Dari sini aku ajak kalian merasakan cemburu, hadirnya orang ketiga, patah hati yang luar biasa. Kisah ini dimulai saat aku masih duduk dikelas satu Sekolah Menengah Pertama, sampai saat ini Mari kita mulai, dengar, dan bayangkan kalian jadi aku.
All Rights Reserved
#135
iqbal
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • My Beloved Revenge [END]
  • Menyimpan Rasa (END)
  •  HAZELA
  • Admire Or Love
  • Cuek VS Cerewet || Syaqeel [ END - PROSES REVISI ]
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • ANANTA [COMPLETED]
  • IN THE END ✔

"Aku yang bakal bawa Dhega." "Kamu gila, Bayu? Kamu gak mikirin anak-anak? "Aku atau kamu yang gila? Aku atau kamu yang nggak mikirin anak-anak?" Sedari ia kecil sang ibu selalu memarahinya dengan alasan jika ia harus berguna dan tidak merepotkan orang lain. Ibunya yang selalu meremehkan hal-hal kecil yang ia lakukan, ibunya yang selalu mementingkan dan mengutamakan sang anak pertama. Dunianya kala itu harusnya hanya tentang bermain, malah ikut andil dalam permasalahan orang dewasa. Dan naasnya, ia harus melihat kedua orang tuanya yang memilih untuk berpisah. membuat dirinya harus ikut dengan sang ayah. Semesta Radhega yang tidak ingin melulu menjadi akhir, ia juga ingin menjadi yang utama, yang selalu diprioritaskan ibunya. "Begitu sulit menyuarakan luka, saat mereka terus-menerus mendesakmu untuk sempurna."

More details
WpActionLinkContent Guidelines