We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
part of the past (Slow Update)

part of the past (Slow Update)

  • WpView
    Reads 113
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 23, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Dua tahun rain aku berusaha mati-matian menjaga yang nama nya sebuah perasaan ke kamu tanpa meminta balasan perasaan, berharap kamu bisa bahagia sama sahabat aku sendiri, tapi nyatanya kamu disia-sia kan.. Mencintai mu adalah hal yang paling sulit ketika aku benar mencintai mu aku hanya mampu diam tak mampu mengutarakan bahkan mengekspresikan sekalipun... Diam cara ku mencintai mu tak mampu berbuat banyak, karena aku paham hakikat mencintai seperti apa? Mencintai berarti memberi bukan meminta! Ketika diam ku, aku berharap kau mengerti! Tak banyak mau ku, bisa mencintai mu sedalam dan selama ini saja sudah membuat ku bahagia... Aku tak minta balasan atas perasaan ku karena aku punya keyakinan kelak kau hanya untuk ku! Rentang waktu tak membuatku jengah mencintai mu 2 tahun perasaan ini masih sama teruntuk orang yg sama pula..
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Halaman Hidupku
  • FRIENDzone (Completed)
  • F E E L I N G ✔✔✔ [Lanjut; Feeling 2]
  • Sahabat atau Pacar [TAMAT]
  • Just Friend
  • Love Hurts
  • Love In Galaxy (End)
  • Only You [Slow Update]

patah mana yang tak kupulihkan sendiri, sakit mana yang belum pernah ku rasakan. Saat dunia menuntutku tegar tanpa memperdulikan bagaimana aku bertahan. Setiap luka selalu ku peluk dalam diam, sembari belajar mencintai diriku yang perlahan hancur. Mereka selalu melihat senyumku, tapi tak pernah tau pertempuran yang ku rahasiakan di balik hati dan pikiranku. Aku berjalan dengan hati yang lelah, namun tetap berdiri meski runtuh dalam sunyi. Aku menangis tanpa suara, meratap dalam jiwa yang hampir mati rasa. Bahkan nafas pun terasa sesak, seolah dunia tak memberiku kesempatan untuk sekedar tenang. Sebab kalau bukan diriku, siapa lagi yang memeluk hatiku sendiri, saat semua memilih pergi ketika aku paling membutuhkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines