HIROO FERDIOS

HIROO FERDIOS

  • WpView
    Reads 608
  • WpVote
    Votes 77
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Oct 26, 2019
"Hiroo jangan sentuh itu! "Hiroo jangan makan itu! "Hiroo jangan banyak beraktifitas" "Hiroo jangan main hujan - hujanan" "Hiroo makan yang sehat, nak! "Hiroo kamu jangan makan makan di pinggiran sekolahmu itu!" "Hiroo jangan bermain apapun!. "Hiroo sudah berapa kali aku harus peringatkan kamu untuk minum obat, nak?!!. "Hiroo, Hiroo, Hiroo terus aku ingin bebas seperti kupu kupu, izinkan aku melakukan yang ingin aku lakukan. tolong jangan melarang aku untuk semua ini. jika tuhan benar benar adil ku mohon izinkan aku sekali saja, melalukan yang ingin ku punya". Ungkapnya sedih. aku hanya teringat pada sepupu dekatku ini yang kerap kali jatuh sakit, usianya baru saja memasuki keremajaan yaitu 12 tahun, kurang. jika saja anak itu sudah 12 tahun lebih mungkin aku bukan hampir anak keremajaan yang satu satunya di keluarga ini, namun takdir berkata lain. pada hari minggu kemarin ia di umumkan telah tiada karena penyakit yang ia deritain. aku memang masih belum mengkhilaskannya sepenuhnya tapi dengan menceritakan kisah - kisahnya mungkin mengobati rasa sedihku.
All Rights Reserved
#181
mydiary
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Maaf, Aku Terlambat END✅
  • Aku Disini Kak! [End]
  • Deberìa Redirme? (End)
  • Alisa's Story
  • A Bittersweet farewell  ( Sudah Lengkap Mari Di Baca)
  • Semesta untuk sean
  • ELIO [ end ]
  • Epiphany - Lee Jeno [SELESAI-REVISI]

"Aku yang bakal bawa Dhega." "Kamu gila, Bayu? Kamu gak mikirin anak-anak? "Aku atau kamu yang gila? Aku atau kamu yang nggak mikirin anak-anak?" Sedari ia kecil sang ibu selalu memarahinya dengan alasan jika ia harus berguna dan tidak merepotkan orang lain. Ibunya yang selalu meremehkan hal-hal kecil yang ia lakukan, ibunya yang selalu mementingkan dan mengutamakan sang anak pertama. Dunianya kala itu harusnya hanya tentang bermain, malah ikut andil dalam permasalahan orang dewasa. Dan naasnya, ia harus melihat kedua orang tuanya yang memilih untuk berpisah. membuat dirinya harus ikut dengan sang ayah. Semesta Radhega yang tidak ingin melulu menjadi akhir, ia juga ingin menjadi yang utama, yang selalu diprioritaskan ibunya. "Begitu sulit menyuarakan luka, saat mereka terus-menerus mendesakmu untuk sempurna."

More details
WpActionLinkContent Guidelines