The Despair in My Heart

The Despair in My Heart

  • WpView
    Leituras 15
  • WpVote
    Votos 4
  • WpPart
    Capítulos 1
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização qua, jun 26, 2019
Apakah kalian pernah merasakan putus asa? Aya, seorang siswi sma, selalu ditindas oleh teman-teman sekolahnya. Rasa putus asa di hati Aya semakin bertambah besar. Suatu hari, Aya tidak datang ke sekolah. Ia menghilang tanpa kabar. Akhirnya, Bu Elli, Dave, dan Clara mengunjungi rumah Aya. Namun, apa yang mereka lihat benar-benar tak terduga. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Aya?
Todos os Direitos Reservados
#127
fear
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • ALYA
  • BARA POSSESSIVUM
  • DRABIA [END]
  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Dari Nadya Menjadi Salsa Bersama Aidyn
  • Stay With Me [Completed]✔
  • Hujan Yang Tak Pernah Reda (HIATUS)
  • Savero Archandra || Haechan || END
  • DOUBLE SARA
  • Contritio
ALYA

Alya melangkah menuju sekolah dengan langkah pelan. Jalanan pagi itu sepi, hanya suara burung berkicau yang menemani. Biasanya, ia akan berangkat lebih awal untuk membaca buku di perpustakaan, tapi hari ini hatinya terasa berat. Sesampainya di sekolah, suasana berbeda jauh dari rumahnya. Di sini, Alya bukanlah anak yang diabaikan. Ia dikenal sebagai murid berprestasi, ketua klub sains, dan siswa yang sering membawa nama sekolah ke ajang perlombaan. Teman-teman dan guru-guru menghormatinya. Saat ia memasuki kelas, seorang temannya, Dinda, langsung menghampirinya. "Alya! Kamu udah siap buat ujian hari ini? Kayaknya ini bakal susah banget!" kata Dinda panik. Alya tersenyum kecil. "Aku sudah belajar semalam. Semoga saja bisa mengerjakan dengan baik." Dinda menghela napas. "Duh, enak banget jadi kamu. Pinter, rajin, selalu menang lomba. Orang tuamu pasti bangga banget, ya!" Ucapan itu membuat senyum Alya menegang. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Bahwa tidak peduli berapa banyak piala yang ia menangkan, orang tuanya tidak pernah benar-benar peduli? Alya hanya tertawa kecil. "Iya, semoga saja." Gmn kelanjutan nya? Langsung baca aj yaa See you, semoga suka sama ceritanya >_- Dilarang keras plagiat karya gw⚠️

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo