Gadis

Gadis

  • WpView
    Reads 92
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 27, 2019
Kain jendela berterbangan tak bebas diterpa angin pagi. Cahayanya masuk menyeruak dalam ruang lantai tiga menabrak secuil daging di wajahku. Aku membuka mata lalu bangkit perlahan dan duduk di sisi pinggir tempat tidur. Kakiku menapak lantai. Lihatlah! Apakah kaki manusia hidup sepucat ini. Aku berjalan keluar. "Klentang," suara kaleng minuman yang tertendang. Entah sudah berapa lama kamar ini tak kubersihkan. Aku mendongak ke langit. Sungguh cerah cuaca hari ini angin juga bersahabat menyelimuti atmosfer. Suara klakson kendaraan, suara wanita yang memberitahukan keberangkatan kereta, suara musik dari radio tersendat-sendat. Mengiringi bongkahan puzzle dalam lamunanku. Aku terus menjalani hidup. Namun, kesedihan semakin menumpuk. Akarnya terus menajam membelah bumi. Dua tahun aku menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Buas menaiki tangga popularitas. Uang menghujani; manusia dari segala penjuru mencinta; perfect life. Entah sejak kapan obsesi ini ada. Namun, aku tak bisa membohongi diri. Kebahagiaan mati. Hingga, aku tak tahan lagi dan Keluar. Setiap hari aku ke sini. Ke halte biasa kau menunggu angkutan umum, ke pameran seni tempat pertama kali di mana kita mengucap kata, ke rumahmu tempat pertama kali di mana kau menangis di pelukan dan membasahi dadaku. Setiap hari aku ke sini. Ke taman tempat pertama kali di mana kau dan dia bertemu secara misterius. Setiap hari aku ke sini. Ke International Port tempat di mana kau pergi tanpa menyisakan jejak. Walau kutahu kau tak di sana. Dengan sepatu usang aku tetap melangkahkan kaki ke gang-gang atau ke jalanan kecil, membeli koran siapa tahu ada kau di ujung kata. Aku tahu kau tak di sana. Biarlah! Biarlah aku berusaha untuk menemukan semburat binar matamu kembali.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Silent, Please! (Re-up)
  • Remember Me As A Time of Day✅
  • TRANSMIGRASI BERDARAH (END)
  • save me
  • Aku Bukan Vellyne [END]
  • tׁׅꭈׁׅɑׁׅ݊ꪀׅ꯱ꩇׁׅ֪݊ ꪱׁׁׁׅׅׅᧁׁꭈׁׅɑׁׅׅ꯱ꪱׁׁׁׅׅׅ ᝯׁ֒ɑׁׅ݊ꪀtׁׅꪱׁׁׁׅׅׅƙׁׅɑׁׅ  (End)
  • ENIGMA! Menjadi Mantan Pacar Kakak Protagonis! [END]
  •  Become A Mommy? ✓

Ada nggak sih manusia bumi yang hidupnya monoton banget nggak ada cabang-cabangnya kayak aku? Setiap hari cuma jalani hidup seadanya. Nggak ada perlawanan, udah kayak hidup nggak mau tapi mati aja segan. Selalu nurutin perintah orang tua, disuruh ini itu nurut. Bahkan di suruh nikah sama orang yang nggak dikenal pun tanpa sungkan langsung ngangguk. Nggak nolak atau apa pun itu? Kayaknya cuma aku deh manusia bumi yang pantas banget dikasih penghargaan sebagai manusia terbaik. Di lamar sama orang asing--yang konon katanya temen paud langsung ngangguk aja nggak banyak protes. Cuma bisa berserah diri sama Tuhan semoga dibukakan jalan mudah selebar-lebarnya. ><>< "Calla, saya izin bawa kamu ke apartemen boleh?" "Ada cewek lain nggak, Mas? Saya ini tipikal cewek baik-baik yang memusuhi buaya!" "Tenang saja. Kamu cewek pertama yang saya bawa ke sana! Nanti malam jangan lupa, malam pertama kita!" "........" "Boleh kabur nggak sih?" "Nggak boleh, kamu sudah saya bawa masuk ke dalam hidupnya seorang Aditya Arsenio. Saya jamin kamu akan bahagia!" "Eitss, jangan lupa headset bluetooth saya di kembalikan. Nanti saya belikan yang baru, khusus buat kamu, istri saya!" Yuk, baca keseruan kehidupan Calla Heelwa dan Aditya Arsenio. Langsung ke prolog, ya? Jangan lupa dukungannya!

More details
WpActionLinkContent Guidelines