Kembali Ke Masa Lalu

Kembali Ke Masa Lalu

  • WpView
    Reads 56
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 27, 2019
masa putih abu-abu memang bisa dikatakan adalah masa yang tak dapat dilupakan. pencarian jadi diri, cinta masa muda, persahabatan, bahkan mimpi untuk masa depan. Disela waktu istirahat, aku duduk di taman sembari membaca kembali buku catatanku. Tak lama Hana menyusulku dan duduk disebelahku. "Sar, bagimana bisa kamu duduk sama Kak Kevin?" Tanya Hana "Aku nggak tahu Han, itu hanya kebetulan saja." Jawabku "Eh, tapi nggak ada yang namanya kebetulan lho Sar." Goda Hana. Aku hanya menggelengkan kepala, jika ku tanggapi maka Hana akan semakin menggodaku. Tiba-tiba yang diomongin datang, ya Kak Kevin datang menghampiri kami. "Hai Nit, hai Han." Sapa Kak Kevin "Hai juga Kak." Jawab Hana Sedangkan aku hanya tersenyum. peringkat 1. 512 2. 633 3. 444
All Rights Reserved
#281
sukses
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Reynand & Joya | END
  • R E Y V A N
  • The Love Triangle
  • Girl By TroubleMaker
  • SQUAD OF CAT
  • Antipole
  • Eternal Memories [End]
  • GALANG [SELESAI]
  • This Is My Dream
  • The Flower's Identity

Follow sebelum baca yuk, untuk mengikuti ceritanya. #645 dalam TEEN FICTION-11/3/2018 #961 dalam TEEN FICTION-9/2/2018 "Kuda poni! Dasar jelek, sinting, kutu kupret, tai lo. Maju sini, gue telen lo hidup-hidup!" teriak Joya mengerahkan semua kekesalannya. Ia bersumpah serapah tanpa berpikir mengampuni orang yang sudah membuat hidupnya sengsara. "Nggak usah teriak-teriak, gue di sini." Suara orang tersebut berada di atas pohon dekat parkiran. Reflek, kedua gadis itu menengadah, menatap pemuda nakal yang nangkring di atas sana. "Turun lo!" perintah Joya seraya berkacak pinggang. "Mau apa? Mau cium gue, ya? Idih nakal." Pemuda itu malah membuat Joya semakin kesal. Ocehannya selalu saja ampuh membuat hari-hari gadis itu semakin runyam. "Najis. Mati aja lo, pengecut!" Joya masih kesal, sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu tidak terkontrol. "Kurang banyak sih, 'kan cuma kempes, nggak sampai penyok." Rutinitas nakalmu berujung terbiasa. Kalo pengen tau terutama Baca selengkapnya ya..... (Di larang mengutip atau menjiplak sebagian/keseluruhan cerita ini tanpa izin)

More details
WpActionLinkContent Guidelines