The End

The End

  • WpView
    Reads 79
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 26, 2020
"kamu terlalu sering kecewa karena manusia! Kamu selalu sakit karena mereka juga! Berhentilah berharap dan percaya! -(Al)- "Sudah berhenti buang-buang waktu di dunia yang rusak ini, ikuti saja permintaanku! setelah kamu mati, kamu terbebas dari semua omong kosong tidak berguna itu, kamu akan berhenti kecewa dan sakit, kamu akan bebas!!" -(Stella)- "AKHHH STOPP, BERHENTII!! berrhentii, kumohon berhentiii" -(Fay)- Dia mulai melemah dan terisak, semakin jauh Fay melangkah mereka 2 kepribadian itu semakin berbeda arah! Yap 3 pribadi yg berbeda dalam 1 tubuh!! Bahagia tak melulu soal Cinta, Sakit tak melulu soal Luka. mereka bisa saja berubah, waktu punya kuasa untuk membuatnya berpindah tempat.
All Rights Reserved
#584
kesedihan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ruang
  • LUKA!
  • Seperti Tulang [SUDAH TERBIT]
  • MR.MINISTER, ANYEONG!
  • NOT SAME (COMPLETE)
  • Queen [ tahap revisi ]
  • Let The Wounds Fade ( TAHAP REVISI)
  • Antara Dendam dan Cinta
  • After he left
  • My Doctors (END)
ruang

SETIAP manusia berhak mendapatkan ruang untuk bisa merasakan ketenangan walau hanya sesaat. Sekadar untuk menghela nafas sebelum menerima segala kenyataan yang akan menimpa dirinya. Mencoba menerima kepahitan dalam kehidupan yang sementara. Atau mungkin sekadar untuk menarik nafas panjang sebelum akhirnnya menerima bantingan keras hingga meremukkan tulang. Semesta tidak pernah berpihak pada Arkana Gala Dakari. Baginya, semua hanya bisa menggoreskan luka yang sangat dalam tanpa memikirkan perasaannya sedikitpun. Mereka seakan-akan tak memberikannya sebuah ruang untuk bernafas bahkan untuk sesaat. Tak pernah sedetikpun ia merasakan yang namanya ketenangan. Kesehariannya hanya berisi tentang kekhawatiran bahkan ketakutan. Arkana bahkan tidak tahu bagaimana rasa kebahagiaan yang sebenarnya. Apakah kebahagiaan itu manis seperti gula atau bahkan pahit seperti kopi. Dunia terlalu kejam untuk Arkana yang sendirian. Dalam keadaan terpuruk ia hanya bisa mencoba untuk berdiri dengan rasa sakit yang bertubi-tubi menimpa dirinya. Ia bahkan berharap mendapat jawaban dari semua doa-doa yang selalu ia panjatkan pada yang maha kuasa. Selain itu, ia juga membutuhkan ruang untuk sekadar bernafas dengan penuh ketenangan. Copyright © 2025, PapaLumoL

More details
WpActionLinkContent Guidelines