Takdir
  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 2, 2019
Ku tatap pria yg di depan ku ini dengan tidak percaya. Pria itu terlihat biasa saja, senyum manisnya yg selalu iya tunjukan padaku sekalipun aku membuatnya marah, tatapan lembutnya yg membuatku selalu nyaman menatapnya. Aku tidak percaya ini,dia benar - benar terlihat biasa saja. Seakan kalimat yg baru saja dia lontarkan adalah kalimat yg selalu iya ucapkan padaku "Apa aku terlihat tampan sayang?" Jika biasanya dia berucap seperti itu aku akan mendekatinya, mendekatkan wajahku pada wajahnya, mengecup bibirnya sekilas lalu mengatakan "Kamu selalu terlihat tampan dimataku." Tapi ini.. apa - apaan ini.. "Sayang.. kamu melamun?" Seketika lamunanku buyar. Bahkan setelah mengatakan ini dia tetap memanggilku dengan sangat lembut. "Sayang.. kita harus pergi sekarang. Carli sudah menunggu kita. Dia sudah menunggu kamu. Ayo kita perg....." "Kamu menjualku?"
All Rights Reserved
#925
rumahtangga
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • DEHANDAR & AQILLA [YOUNG MARRIAGE]
  • Memorable
  • You Are Not Alone (Slow Update)
  • Suddenly Marriage
  • KHALISA🖤
  • My Sweet heart
  • Stay or Go
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • Tentang Kita-DewNani (B×B) ✓

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines