Sad Girl

Sad Girl

  • WpView
    Reads 1,660,260
  • WpVote
    Votes 66,306
  • WpPart
    Parts 59
WpMetadataReadComplete Sun, Jun 2, 2024
Aleta merupakan seorang wanita kuat yang menghadapi kejamnya kehidupan. Dia sering dihina karena miskin, sering dibully karena miskin, dan dia tidak pernah mempunyai teman karena orang-orang jijik padanya. Aleta selalu dibully bahkan disiksa karena dia miskin, tetapi ia tidak pernah ingin membalas atau membenci orang yang telah melukainya, justru ia ingin terlihat kuat di depan orang yang telah melukainya. Aleta selalu tersenyum ketika dirinya tersiksa, tetapi itu hanya senyum kepalsuan, batinnya merasa sangat tersiksa. Aleta selalu berharap kebahagiaan cepat datang padanya. Kebahagiaan itu datang saat ia bertemu dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu telah mengenalkan kebahagiaan pada Aleta, walaupun kebahagiaan itu hanya sesaat. Semoga kalian bisa ngambil pesan moral dari cerita ini ya. Kenapa kebahagiaannya sesaat ya? Yuk baca. ⚠ Mengandung banyak kekerasan. ⚠ Banyak typo. ⚠ kalau pengen nangis, nangisin aja gak usah ditahan. ⚠ Kalau benci bilang aja gak usah dipendam. ⚠ Kalau kesel, marah aja. Soalnya cerita ini bakal terus buat kalian kesel dan greget banget. Rank 2 katagori Fiksi Remaja {090420}
All Rights Reserved
#360
menderita
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Abstrak
  • Persona
  • Heart disclosure [completed]
  • SI TAMPAN AERO
  • ATHARES✓
  • Let Me Love You Longer
  • ALFIREN
  • THE SECRET OF ALIQUID NOVI
  • ALVIVA (END)

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines