A Letter to Myself

A Letter to Myself

  • WpView
    LECTURES 2,989
  • WpVote
    Votes 618
  • WpPart
    Chapitres 33
WpMetadataReadContenu pour adultesTerminé mar., déc. 31, 2019
[COMPLETED] "Teruntuk diriku, Ada malam dimana kamu menangis. Lalu ada malam dimana kamu mengubur kesedihanmu dan berkata kamu sudah lelah. Tapi selalu ada hari esok yang membuatmu cemas dan ketakutan. Karena kamu terus berpikir bahwa esok akan selalu sama. Tidak ada mentari. Hanya ada hujan. Bisakah kamu berlari dari rasa takutmu? Bisakah kamu menatap segala sesuatunya sebagaimana cara orang lain memandang?" -Fyura Starlyn, A Letter to Myself Fyura Starlyn, seorang perempuan dengan gangguan kecemasan yang terus berjuang untuk sembuh. Perjuangannya justru mempertemukannya dengan Antares, senior di kampusnya, yang ternyata sama-sama memiliki luka dan kisah menyakitkan yang sulit dilupakan. Mampukah mereka berjalan keluar dari rasa sakit? Atau justru mereka harus bergelut dengan luka batin selama terus menerus? Kisah ini, termasuk segala tawa dan sesak yang tertulis di dalamnya, semua ini untuk kita. Untuk kita yang sedang belajar mencintai diri sendiri. Yang sedang merangkak dari rasa sakit. Yang sedang mencoba menatap hidup dengan penerimaan seadanya. Dan kamu, yang sedang tertatih, mencoba menerima diri. Ps : Baca saja, siapa tahu kamu menemukan teman di dalamnya😁 ~First publish : 1 Juli 2019 ~Update setiap Kamis dan Sabtu
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Breathe
  • You Are Mine [Terbit]
  • INSTABLE - (Ta) [Completed]
  • ATHALARIQ
  • Filantropi [SELESAI]
  • GHOSTING [TAMAT]
  • HURT [Sudah Terbit]
  • Hopeless
  • BERISIK (END)
Breathe

[Trigger warning! Efek yang kalian rasakan setelah membaca cerita ini di luar tanggung jawab dan kuasa penulis.] We all here have our own struggles. Hal tersebut adalah sesuatu yang pasti dalam hidup, yang tidak dapat ditentang lagi. Itu pula yang dirasakan oleh Rome. Ia sama seperti kalian. Ia pun memiliki masalahnya sendiri. Memiliki "luka"-nya sendiri. Tak terhitung berapa banyak goresan yang pernah ditorehkan dunia padanya hingga detik kau membaca kalimat ini. Sampai pada akhirnya, ia tidak dapat merasakan luka itu lagi. Kau tahu? Tingkatan sakit yang paling sakit adalah ketika kau sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Dan itulah yang dirasakan oleh Rome. Semuanya terasa kebas. Semuanya terasa begitu biasa. Semuanya terasa bagaikan bagian dari hidupnya yang mustahil untuk dihilangkan. Namun tetap saja, luka itu tidak akan pernah hilang dan akan selalu terasa sakit ketika dunia lagi-lagi menggoresnya. Bukan soal fisik, namun soal jiwanya. "Sometimes you gotta bleed to know that you're alive and have a soul." -Twenty One Pilots-

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu