A Love-Hate Relationship; Champagne and Us

A Love-Hate Relationship; Champagne and Us

  • WpView
    Reads 1,266
  • WpVote
    Votes 119
  • WpPart
    Parts 29
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 21, 2019
Apa yang akan kalian lakukan ketika seorang pria charming menoticemu secara terang-terangan? Sebelum kau persis jatuh cinta dengannya, kau menyadari pria idaman itu sudah ada yang memiliki. Lantas apakah notice itu akan berakhir indah, atau malah merusak semua keadaan? ### Feyre menikmati masa-masa pengangguran pasca kelulusannya sebagai bachelor business. Ia tidak terinspirasi menjadi pengusaha kaya raya seperti keluarganya. Alih-alih ia menjadi supir antar jemput adik sepupunya ke sekolah. Ia pikir, kegiatan barunya yang tidak penting itu perlahan membawa berkah soal asmaranya. Siapa yang tahu? Tian mencintai pekerjaannya, namun seseorang mengusiknya. Ia benci suasana ramai dan berisik. Tapi suatu hari, seseorang di tengah keramaian menatapnya dengan sendu. Iris mata kecoklatan itu menghipnotisnya. Seolah, naskah yang ia bacakan mengalir indah, mendukung suasana hatinya. Mulai saat itu, ia ragu apakah hatinya masih sepenuhnya milik sang kekasih atau tidak. ### "Saya minum sampanye ketika saya menang, untuk merayakan sesuatu, ketika saya ingin melupakan, meminumnya karena kehilangan, menghibur diri." - Tian.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kopi & Deadline (On Going)
  • Jadi Baby?! [Lengkap]
  • Aku Disini Kak! [End]
  • Shivviness[END]
  • Arsyilazka
  • Titik Hitam Dalam Nurani [END]
  • Ad Meliora || END✓
  • Sejuta Luka Giel
  • SEPARATED BROTHER [END]

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️

More details
WpActionLinkContent Guidelines