Menunggu Hujan

Menunggu Hujan

  • WpView
    Reads 72
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadMatureComplete Thu, Sep 3, 2020
Bercerita tentang seorang gadis bernama Nazia binaria, gadis yang memiliki hidup yang sangat miris. Selalu dianggap tidak berguna, pembawa sial, dan tidak dianggap oleh keluarganya.. Ayah,kakak dan adik nya begitu membencinya.. karena dia dianggap sebagai penyebab kematian ibunda tersayang. Seorang introvert yang tidak memiliki teman, dan selalu dibuli .. hanya karena berteman dengan primadona sekolah yang juga sebenarnya hanya baik di depannya karena mengincar sesuatu darinya. Meskipun hidupnya dipenuhi oleh Lika liku, dia tidak menyerah akan hidup dan terus menjalaninya seberat apapun itu. Ia memiliki sebuah impian, Impian untuk menjadi yang bahagia suatu saat nanti. Ingin mendengar ayah nya berkata bahwa dia bangga akan dirinya, ingin merasakan pelukan kakanya, ingin mendengar nyanyian adiknya bersamaan dengan turunnya hujan... Inilah impian yang ingin dia wujudkan.
Creative Commons (CC) Attribution
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Elegi Rasa : Pergi
  • I LOVE MIMA (Lurah Family)
  • Cinta yang Sesungguhnya END ( ORINE JKT48 )
  • Never Rewarded [END]
  • HATI YANG HAMPA  [END]
  • Amami
  • Naraya

Kadang menjadi begitu terlambat menyadari sesuatu akan membekaskan rasa sakit yang tak lekang oleh waktu. Saat cerita yang kelewat singkat dilalui menghantarkan pada sakit yang menghantui. Safir sudah merasakannya. Dua kali dalam hidup ia seperti dipermainkan rasa. Nila yang tak mau melihat. Dan Bianca yang pergi pada sesuatu yang tak terlihat. Ketika sepi melanda. Bukannya pada dunia yang luas, hanya pada dunianya sendiri yang tiba-tiba runtuh. Safir merasa begitu buruk di mata Bianca. Merasa begitu lelah di hadapan Nila. Dan malam itu, harusnya ia berusaha lebih keras. Saat si gadis berkata, "Aku pamit pulang, ya." Harusnya Safir membujuk lebih tegas. "Biar aku yang antar." Kenyataannya, Safir menjadi begitu terlambat. Saat rasa itu mulai tertambat. Hatinya justru sakit tanpa ada yang membebat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines