Catatan Dinta untuk Marvel

Catatan Dinta untuk Marvel

  • WpView
    Reads 310
  • WpVote
    Votes 17
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 24, 2019
Dinta itu nyebelin, apalagi kalo lagi debat sama Marvel. Rasanya pengin Marvel karungin terus dibuang ke tengah laut. Dinta itu angkuh, selalu anggap orang remeh. Sama halnya kalo Dinta lagi natap Marvel dengan tatapan remehnya. Rasanya pengin Marvel congkel bola mata Dinta. Dinta itu nomer satu di sekolah, dan Marvel nomer dua. Bagi Marvel, Dinta itu kembarannya Medusa. Dan bagi Dinta, Marvel hanyalah sebuah serangga peganggu. Yang harus dienyahkan. Marvel selalu berharap Dinta mati esok, supaya ia tidak selalu melihat tawa meremehkan Dinta untuknya. Sedangkan Dinta selalu berusaha mempertahankan nyawa nya dari serangan ayahnya yang menggila.
All Rights Reserved
#296
dark
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 12 Titik Balik (END)
  • Adinda | Jeno Jaemin
  • Cinta Tak Terduga
  • Something Wonderful
  • DARK SIDE [COMPLETE]
  • Find A Way to My Heart (SUDAH TERBIT)
  • Xxera
  • Crush.
  • The Bloody of School
  • Suddenly Becomes Samara In The Novel

(Sudah revisi) SMA Garuda Merah, sekolah megah penuh ambisi, kini menjadi kandang maut bagi dua belas jiwa muda. Dalam satu malam penuh misteri, gerbang terkunci, listrik padam, dan suara Kepala Sekolah menggemakan perintah mematikan: "Bertahanlah, atau hancur bersama waktu." Aneth, gadis tangguh namun rapuh, harus memimpin teman-temannya menari di ujung pisau. Persahabatan diuji, cinta dipertaruhkan, dan pengkhianatan berbisik di setiap sudut gelap lorong sekolah. Malam-malam panjang penuh teriakan dan isak tangis, membuat solidaritas pecah. Saat darah membasuh lantai sekolah, dan satu per satu nyawa direnggut, Aneth sadar: di permainan ini, tidak ada pahlawan - hanya korban dan pengkhianat. Di ujung segalanya, saat tubuh-tubuh yang dulu hangat kini membeku, Aneth berdiri sendiri, menggenggam bendera yang kini basah oleh darah. Dari balik jeruji tak kasat mata, ia menyadari: yang tersisa dari hidup bukan kemenangan, melainkan luka yang abadi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines