Our Secret

Our Secret

  • WpView
    LECTURAS 118
  • WpVote
    Votos 16
  • WpPart
    Partes 11
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, oct 26, 2022
Perkenalkan, aku adalah seorang yang sangat ahli dalam kata penantian, mereka yang ku sebut sahabat acapkali menganggapku adalah seorang yang bodoh, lemah karena aku sangat senang berteman dengan luka, bersahabat dengan sepi hingga aku menjadi asing pada diriku yang dulu. Sejujurnya aku tak terlalu mendengarkan perkataan mereka, watakku yang memang sedikit keras kepala membuatku sulit untuk menerima pendapat terutama masalah cinta. Iya, ku akui itu. Begitu banyak kalimat dari halus hingga kasar yang ku dengar, semuanya menyudutkan rasaku, mungkin memang benar yang mereka katakan tapi tak bisakah mereka hanya mendukung dan menemaniku menyembuhkan luka saja? Mengapa menyuruhku menghapus semua? Tak tahu kah mereka?, Bahwa cinta ini begitu berharga untukku, cinta ini adalah cinta pertamaku, haruskah aku menyerah dengan mudah?. Aku tak membutuhkan jawaban mereka sejak hatiku terus berkata bahwa aku hanya ingin dia. Dan aku, Inata Lila Amanda.
Todos los derechos reservados
#561
rama
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • KERLIP BINTANG CINTA
  • THE CLIMB [Completed]
  •  ANATHA
  • Let Go
  • Silent Heart!
  • LALA
  • Menyerah atau Bertahan?
  • CINTA YANG NYATA
  • Alamanda (Telah Terbit)

SEGERA DITERBITKAN Sebenarnya ini adalah idenya Liaa. Entah apa yang merasuki otaknya kali ini, sehingga memintaku untuk menulis. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, apalagi menyelesaikan suatu cerita. Tidak seperti Liaa yang sangat menikmati saat-saat merangkai setiap paragraf dalam mengembangkan idenya. Bersenandika, mengolah diksi, menulis berbagai tema, dan menuntut pancaindra agar lebih peka. Bila satu paragraf saja membuatku termenung berlama-lama, apalagi satu novel yang sampai beratus-ratus halaman tebalnya. Aku bisa gila, Liaa. Namun, gadisku yang cerewet dan berambisi besar itu pasti akan memprotes, "Kamu pasti bisa, kok, jangan pesimis, deh! Belum apa-apa udah ngeluh. Nulis itu gampang, cuma kamunya aja yang gak mau usaha!" Begitulah Liaa, dia 'illfeel' dengan orang yang angkat tangan sebelum berjuang. Alih-alih memotivasi, malah muncrat juga omelannya. "Iya, Liaa. Jangan ngambek, aku cium, nih!" Ancamanku membuat pipinya seketika memerah bak kepiting rebus. Aku sangat buruk dalam mengembangkan ide cerita. Jauh dibanding Liaa yang bisa menyelesaikan dua novel sekaligus. Ya, novel-novel itu adalah kisah kami yang dia tulis. Tugasku cukup diam dan jangan membuatnya marah. Jika tidak, Liaa akan berhenti menulis dan mengomel seperti ibu-ibu kostan. Karena sejatinya waktu terbaik untuk menulis adalah 'mood' yang baik.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido