Sincerity Love Srikandi

Sincerity Love Srikandi

  • WpView
    MGA BUMASA 30,554
  • WpVote
    Mga Boto 1,619
  • WpPart
    Mga Parte 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Wed, Jun 3, 2020
Dinda Pov Kali ini aku tengah memesankan minuman untuk orang yang telah mengembalikan hpku.Pembicaraan yang asik membuatku lupa jika aku belum berterima kasih kepadanya. Dia sepertinya seorang Tentara ,Terlihat dari seragamnya .'Duhh kok jadi inget sama Wahyu Muzaki'idolaku sejak kelas 1 Sma Abdi negaraku. Aku kembali menghampiri yang sedang mengangkat telpon. 'Sebaiknya aku tunggu,karna tidak sopan jika mengganggu' Dan sepertinya dia sudah selelai mengangkat Telpon. Aku memangginya yang sedang berbalik membelakangiku. "Pak Ini minumannya ,maaf telah membuat mu menunggu" kataku Dia berbalik menjadi berhadapan denganku menerima minuman yang ku sodorkan. Dann......Jder aku diam mematung . 'Ya Tuhan jangan Bangunkan aku dari mimpi indah ini' "Hey,kok malah bengong .Makasih untuk minumannya" katanya sambil mengacungkan minuman yang aku berikan berjalan mundur menjauh dariku. Eits dia kembali ,dia menghampiri ku dan jarak diantara kita hanya beberapa senti . 'Ya Tuhan Mimpi apa aku ini' "Maksih ,See you PACAR" Bisiknya setelah itu Dia Pergi Menjauhh . ",Makasih" ucapku pelan sembari melihatnya pergi menjauh.
All Rights Reserved
#660
dokter
WpChevronRight
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • 1, Bunga di Taman Hati
  • Meet and Pass
  • the other side
  • TUBUH GADIS NERD [END]
  • Abadinya Kisah Jerrom & Affa
  • 𝐏𝐄𝐏𝐑𝐎𝐌𝐄𝐍𝐎
  • "He's mine"
  • Puisi Kegagalan
  • RAKAALENA
  • U'RE MINE [END]

"Fabian..." Mami menatapku. "Yakin, Ian mau kalau dijodohin?" "Kalau semua ikhlas, aku yakin, Mi." Aku terus menatap mata ibuku. "Sayang, kamu sudah dijodohkan sejak sebelum kamu lahir." Aku tersentak. Tergugu tanpa kata. Tanpa bisa kucegah, aku memasang wajah bodoh. "Cerita singkatnya, jodoh Ian ini cucu teman Opa." "Gimana bisa?" Aku masih memasang wajah bodoh itu. "Waktu Opa dan temannya Long March Divisi Siliwangi, mereka berdua terpisah dari rombongan, lalu kena ranjau darat. Pas masa kritis kayak gitu, mereka sepakat mau ngejodohin anak-anaknya atau cucu-cucunya." Mami membuka tasnya. Mengambil selembar amplop lalu menyodorkan amplop tersebut ke arahku. "Ini foto calonnya." "Aku setuju, Mi." Aku tetap menatap wajah Mami. "Ian nggak lihat dulu anaknya?" "Aku yakin sama pilihan Mami. Apalagi ini kesepakatan semua." "Ian lihat dulu deh..." Meski merasa tak butuh melihat wajah yang tersembunyi di balik itu, tetap saja akhirnya kubuka amplop tersebut. Haahhh??? "Mami...??" Kupandang wajah Mami dengan wajah bodohku yang terbaik, yang terbodoh. "Nggak salah nih, Mi...?" "Kenapa? Ian berubah pikiran?" "Masih ABG beginiii...!!!" "Oh... itu foto dia masih kelas X." "Sekarang?" "Balik foto itu," perintah Mami tegas. Perlahan kubalik foto itu. Kembali aku terkesiap. "Mami...?" Kupasang wajah bodohku sekali lagi. "Ini beneran?" "Ya benar lah." "Ini mahasiswa aku, Mi.... Sekarang tingkat satu. Tahun depan pasti masuk kelas aku." "Sepertinya begitu," jawab Mami maklum. "Ada masalah dengan itu?" Aku tergugu. Namun aku merasa harus bertanya. "Mi, dia mau sama aku? Dia mau dijodohin sama dosennya?" "Nah, pertanyaan bagus." Mami menepuk bahuku. "Dia sama sekali tidak tahu soal perjodohan ini. Jadi sekarang bola di tangan Ian. Kamu mau bawa ke mana bolanya. Terserah." Haaahhh??? ***

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman