Rumah Terkutuk

Rumah Terkutuk

  • WpView
    Reads 628
  • WpVote
    Votes 42
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 11, 2019
WpInfo
Fiction
Horror
Kisah ini dimulai semenjak kepindahanku dan keluarga kecilku ke rumah baru itu. Dari rumor yang kudengar rumah yang akan kami tempati adalah rumah 'terkutuk'. Aku sendiri adalah orang yang sulit percaya dengan rumor-rumor yang berbau mistis. Namun, semua itu berubah setelah tiga bulan kami tinggal di rumah tersebut. 'Mereka' selalu menganggu bahkan sampai menerorku dan keluarga kecilku. Sampai suatu hari kejadian naas menimpa keluargaku, yang berujung penyesalan amat mendalam. ✅Horor ✅Misteri ✅Hantu
All Rights Reserved
#160
gaib
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dedarah 「END」
  • Sixth Sense [COMPLETED]
  • JINGGA (Bab 1 s/d Bab 38) ENd ✔️
  • Bisikan Mereka ✔
  • AKU INGIN BAHAGIA   [ SELESAI ]
  • Tengah Malam
  • I'M HURT!
  • My Horror •Irror•
  • MATA KETIGA [TAMAT]
  • Is Died

[15+] Aku dikutuk. Aku hanyalah seorang gadis penderita asma yang ingin menjalani hari-hari dengan tenang bersama ibu dan adik laki-lakiku. Aku tidak mau punya masalah dengan orang lain, aku cenderung menghindari mereka. Namun, saat aku bangun pagi itu. Semuanya berubah. Seseorang sudah mencari gara-gara padaku. Siapa orang yang sudah memberikan kutukan ini? Bagaimana bisa aku harus berurusan dengan makhluk mengerikan yang bisa mencekikku dengan rambut panjang tak terukur dan bisa mencabik-cabikku dengan kuku-kuku setajam gunting itu? Siapa pun dia, aku tidak akan memaafkannya. Dibantu Darma, pemuda bodoh si maniak kasus-kasus misterius, aku menyusuri bagaimana kutukan ini bisa sampai kepadaku. Aku dibuat tak percaya. Aku harus memindahkan kutukan ini pada orang lain dengan ritual yang aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Kutukan ini membuatku kehilangan hal paling berharga dalam hidupku. Aku frustrasi, aku ingin mati saja. Di titik terendah dalam hidupku, aku menemukan cara lain. Sayangnya, aku harus siap berkorban nyawa. Itu jauh lebih baik daripada hidup berlumuran darah sembari menunggu ajal tiba.

More details
WpActionLinkContent Guidelines