Search secrets behind the past

Search secrets behind the past

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Fri, Jul 19, 2019
Juna : mengapa mimpi - mimpi itu selalu datang berulang kali. Seperti ada misteri yang harus aku ungkap dari semua mimpi - mimpi itu. Siapakah dua orang yg ada dimimpi itu ? Kayla : siapa cewek yg ada dalam mimpiku ? Mengapa wajahnya mirip denganku ? Apakah dia adalah orang dimasalaluku ? Terus mengapa dia selalu muncul didalam mimpiku tiap hari ? Rama : bantulah aku mencapai mimpiku yg dulu gugur. Bantulah aku meraih mimpi itu bersamanya. Hanya kamu orang dimasa depan yg bisa meraih mimpiku dimasalalu. Sinta : tolonglah aku, aku butuh bantuan kalian. Hanya kalian yg bisa membantuku untuk meraih cita - citaku yg dulu terpendam. Bisakah kalian membantuku ?
All Rights Reserved
#65
juna
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Aku & Kamu Kita
  • MEET AFTER PARTINGE
  • Power Couple
  • KEPERGIAN SENJA
  • Setoples Mimpi (COMPLETED)✔️
  • A MEMORY BETWEEN US | HARQEEL [ON GOING]
  • KAY (Nerd Boy X Cheerful Girl) [Telah Terbit]
  • Kutukan Tumbal
  • ZEPHYRVILLE: KAEL BUMIANTARA

Qil... maaf, gue nggak sadar sama apa yang barusan kita lakuin," ucap Mohan, suaranya lirih, penuh penyesalan. Namun penyesalan itu tak mampu membendung luka di dada Aqila. Ia menatap Mohan dengan mata yang basah dan penuh kekecewaan. Suaranya pecah, histeris, "Diem lo! Gue salah apa, Mohan? Kenapa lo jahat banget sama gue? Gue benci lo, Mohan! Akhhhhh!!" Jeritannya menggema, memecah malam yang sepi. Mohan panik. Ia mendekat, mencoba menenangkan dengan memeluk tubuh Aqila yang bergetar. Tapi Aqila memberontak, menolak sentuhan itu seolah menyentuhnya adalah membuka kembali luka yang belum sembuh. "Lepasin! Lepasin gue! Jangan lakuin itu lagi... Sakit... Sakit!" isaknya keras. Mohan terdiam sesaat, menelan semua rasa bersalah yang menyesakkan. Ia mengendurkan pelukannya, menatap wajah Aqila yang basah oleh air mata. Dengan lembut, ia genggam wajah Aqila, memaksanya menatap ke arahnya. "Oke, gue lepasin. Tapi plis, Qil... Tenang dulu, oke?" Aqila hanya terisak. Tidak menjawab. Tidak memukul. Tidak menolak. Tapi juga tidak menerima. Malam itu menjadi saksi, bahwa kadang maaf tidak cukup. Ada luka yang butuh lebih dari sekadar kata-kata untuk sembuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines