Wanita Tangguh (ON GOING)

Wanita Tangguh (ON GOING)

  • WpView
    Reads 311
  • WpVote
    Votes 28
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 9, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Luka? Sedari kecil luka selalu mengiringi langkahku. Dipaksa berdiri tegak saat sedang rapuh terjatuh. Tenang saja! Aku sudah kebal akan rasa sakit. aku tak selemah yang orang pikir. Tak sediam yang orang lihat. tak sebaik yang dia lihat. Sikapku tergantung bagaimana kau memperlakukanku. Namaku mentari, Nama yang indah bukan? Tapi tak seindah kehidupanku sepanjang ini. ingin rasanya menyalahkan takdir, tapi sedetik kemudian rasanya terlalu egois jika aku menyalahkan takdir begitu saja. Mencoba berpikir positif! Mungkin saja ada kebahagiaan diujung luka yang kurasa. Aku berasal dari keluarga berada, Difitnah dan diusir oleh keluarga sendiri bukan suatu hal yang buruk bagiku. Aku membuka butik dari uang hasil menabung selama ini. Tentu saja aku bukan orang yang boros yang selalu menghamburkan uang untuk berfoya foya. Uang bekal yang diberi orang tuaku begitu banyak dalam sehari, sehingga aku memilih menabungkan sebagian besar untuk merintis usaha butik ini. Aku juga membeli rumah yang cukup sederhana untuk tempat tinggal. "Aku harus lebih kaya dari mereka" begitu yang kupikir. Hanya beberapa orang yang tau jika aku adalah orang yang berada, bahkan keluargaku pun menganggap bahwa aku miskin dan hanya menumpang hidup pada temanku, Ayu. Ayu adalah orang kepercayaanku. Ayu tinggal di rumahku namun kebanyakan orang tau jika Ayu lah pemilik rumah tersebut. Tentu saja aku tak ingin lebih mudah membeberkan kekayaanku. Usiaku 18 tahun saat ini, tadinya ingin melanjutkan kuliah. tapi aku lebih memilih untuk mengembangkan usaha butikku hingga menjadi butik ternama, dan sukses Masalah percintaan? Aku adalah orang yang begitu cuek akan cinta. Bagiku cinta itu tidak ada dan takkan pernah ada. Hingga suatu saat aku bertemu dengan seorang pria yang berhasil melelehkan dinginnya hatiku. Namun mungkin takdir ingin membuat bahagiaku menjadi besar, sehingga memberikan luka lagi lewat pria itu. Apakah aku tak pantas bahagia tuhan? mengapa semua ini terjadi ?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • DANADYAKSA
  • I Love You
  • Petrichor
  • Saya, Awak dan Malaysia Kala Itu
  • T E R B U N U H   S E P I  || Z W E I T S O N •• U N 1 TY || E N D
  • JANGAN PANGGIL AKU LARAS
  • Full Of Scratches
  • Maina & Maxim

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines