Tak Seindah Bintang

Tak Seindah Bintang

  • WpView
    LECTURAS 295
  • WpVote
    Votos 21
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación vie, ene 17, 2020
Ini bukan saquel dari SERPIHAN, tapi masih saling berkaitan. Jadi alangkah baiknya baca SERPIHAN terlebih dulu :v Warning!! Mengandung banyak kata kasar, hehe. ________________ "Inda!" Menghentikan langkah, sontak gadis dengan seragam abu-abu itu berbalik menatap sesosok manusia yang berperan besar menggoreskan luka di hatinya. "Mau sampe kapan Lo kek gini terus? Ini bukan Inda yang gue kenal." "Dari awal gue emang udah asing Bin, lagian gue cuma main-main kok." Ujar gadis itu dengan senyum licik nya. "Murahan-_" "Pfftt, lucu Lo ya." Kelakar amat jenaka Inda keluarkan agar perih akibat ucapan kasar itu tertutupi. Tidak, seorang Dewinda Purbasari tidak boleh lemah di depan pemuda brengsek ini, Bintang Prayoga Dirgantara. "Kenapa Lo gak pernah ngerti, ha? Sikap bar-bar Lo yang kayak gini buat Afia takut." "Sebegitu pedulinya ya, rasa takut Afia lebih penting dari perasaan pacar Lo sendiri." "Lo kan tau.. Afia sakit, dan dia butuh gue" Frustasi Bintang serupa bentakan, karena sekali lagi ia ingin mengingatkan gadis di depannya ini. Tersenyum tipis dengan bening air mata yang mulai menebal, Inda mendekat "Terus gue ngga? Lo pikir cuman Afia yang sakit? Dan hati gue engga, gitu? Sakit Bin, ketika gue berusaha bertahan menerima semua cacian orang tentang betapa buruknya harga diri gue demi hubungan ini, dan Lo? Untuk peduli aja ngga pernah." "Dewinda.." Cicit Bintang sekali lagi, "Lupakan! gak ada pengaruhnya juga gue ngomong ini." Mengusap kasar wajahnya, Inda mulai mengambil aba-aba pergi. "Ah iya, satu lagi. Lo bebas sekarang, bahagiakan 'dia' sesuai janji dan gausah pedulikan gue." Kali ini Inda benar-benar mengambil langkah pergi, ia hanya akan menyakiti dirinya sendiri jika terus bersama Bintang. . . . Karena Bintang nya kini sudah tak seindah dulu.
Todos los derechos reservados
#7
inda
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Tokoh Utama
  • Because I'm Stupid (End)
  • AlfaNada
  • RAJAWALI
  • You Are My Destiny
  • Rama Prananta (Sudah Terbit)
  • INI CINTA BUKAN BENCI
  • BarraKilla
  • Stay (Away)

" Lo ngga lagi berubah ke alter ego Lo yang lain kan ?" Tanya Icha memastikan karena jawaban dari raksa tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Yang ditanya malah senyum senyum sendiri. "Kumat kan Lo malah kerasukan sekarang, senyum" ngga jelas lagi" "Takut ya lo kalo gue kerasukan bneran?" "Ish seriusan raksa gue nanya beneran" " Lo mau gue jawab seserius apa Cha karena itu emng jawaban gue" "Terus apa hubungannya posisi sama penyakit?" "Ada, klo gue ngasih tau ke bokap tentang penyakit gue ini sama aja kaya gue yang ngambil peran tokoh utama dari Abang gue sendiri" " Abang? Bang reja maksud lo?" "Apaan si sa jawaban Lo ambigu bgt bang reja ga mungkin kali sejahat itu sama Lo nganggep lo rebut kasih sayang bokap Lo" "Iya gue tau bang reja ngga cuman ngga sejahat itu tapi dia juga sayang bgt sama gue, kalo Lo jadi gue emng Lo tega biarin diri Lo sendiri rebut tokoh utama yang seharusnya bukan milik Lo?" " Tokoh utama apaan lagi si sa, kita ini di dunia nyata jadi ya tokoh utama nya ya cuman diri Lo sendiri, gue saranin mending Lo buruan bilang ke bokap Lo tentang penyakit lo itu" Raksa tertegun mendengar perkataan Icha itu " Lo malu yah punya calon pacar penyakitan mental kaya gue?" "Apaan si emng gue mau jadi pacar lo " Jawab Icha sepelan mungkin. " Kalo mungkin Lo nantinya jadi pacar gue sa, gue ga bakalan malu punya pacar seorang raksa yang menurut Lo, Lo adalah manusia penyakit mental karena itu ngga jadi masalah buat gue tapi masalahnya apa iya gue pantes, bersanding sama Lo yang terlalu sempurna buat gue, dan lagipula gue masih ada rasa buat Abang lo sa"batin Icha Tanpa mereka sadari setelah percakapan mereka berhenti disana mereka saling bergumam dalam hati, sambil menikmati sejuknya terpaan angin sore di tepi ladang sawah.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido