Cinta yang Seribu

Cinta yang Seribu

  • WpView
    Reads 76
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Apr 29, 2021
Memasuki usia remaja, dunia mulai tersingkap sedikit-demi sedikit perbedaannya. Masa ketika kamu mulai menghirup berbagai macam wewangian bunga, serta mata yang dimanjakan oleh aneka rupa dan warna. Seolah kamu menerima sesuatu, yang sedang menunggu di balik pintu. Namun tak segalanya bercerita tentang kesenangan. Karena kesedihan seringkali membersamai, disaat itu, kamu mulai belajar merelakan. Dan kamu pun merasa kehilangan. Tak mengapa, masa remaja memang begitu. Manis seperti gula, dan pahitnya sepahit bunga kamboja. Tulisan ini semoga dapat mewakili segenap perasaanmu yang terkubur dalam di lubuk hatimu. Atau bahkan menghiburmu, karena berjuang sendiri pun takkan mudah. Cinta yang Seribu adalah cara pandang yang melelahkan, tapi itulah realita kehidupan bagi sebagian orang. Bahwa mengagumi ciptaan-Nya berarti mensyukuri nikmat-Nya. Semoga saja. "Semacam rasa cinta yang datang menghampiri, dan seakan kehilangan sesuatu yang tak pernah dimiliki." Apakah bisa, Ia disebut dengan cinta?
Creative Commons (CC) Attribution
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • MENCINTAIMU, SEINDAH TUHAN MENCIPTAKANMU
  • GRADIOLA ( END )
  • LOVE YOURSELF(Hiatus)
  • Surat untuk Aluna - Antologi Cerpen Cinta Remaja
  • Let Me Love You Longer
  • [✔️terbit] 1. The Girl That Hurt
  • Cerita kita (Tamat)
  • Lentera Harapan
  • P E R N A H
  • SEMESTAKU [Segera Terbit]

Aku percaya cinta adalah sebuah pelukan hangat, bahkan di tengah gemuruh hujan. Tapi siapa sangka, pelukan yang sama kini meninggalkan dingin di tubuhku? Kamu meninggalkanku, dan aku tak pernah siap untuk kehilanganmu. Kehilanganmu bukan sekadar perginya seseorang dalam hidupku. Kehilanganmu adalah tentang diriku yang kian merapuh, bagian-bagian dari diriku yang tercerai-berai, seperti serpihan kaca yang tak tahu bagaimana akan kembali utuh. Aku mencoba menulis surat untukmu, berharap kata-kata bisa menggantikan kehadiran yang hilang. Namun, setiap huruf yang kutulis, hanya menambah luka, mengingatkanku pada rindu yang tak akan pernah sampai kepadamu. Mungkin, mencintaimu adalah keindahan sekaligus kutukan. Sebuah hadiah yang diiringi keperihan tanpa akhir. Dan di sinilah aku, yang dalam diam melangitkan namamu. Untukmu, yang kucintai dengan penuh Namun tak pernah menyadari kehadiranku. Buku ini sengaja ditulis untuk nama yang selalu kulangitkan namun enggan untuk menyambutku, yang hadirnya pernah membuat duniaku mekar dengan indah, yang kehilangannya membuat diriku merapuh bersama serpihan luka yang ia tinggalkan. Dan buku ini sekaligus dedikasi untuk mereka yang pernah kehilangan, untuk hati yang berani mencintai meski tahu akan terluka. Karena di balik setiap tetesan air mata, selalu ada cerita yang layak untuk diceritakan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines