Happily Ever After

Happily Ever After

  • WpView
    مقروء 62
  • WpVote
    صوت 8
  • WpPart
    فصول 2
WpMetadataReadمستمرّة
WpMetadataNoticeآخر تحديث: سبت, أغسـ ٣, ٢٠١٩
WpInfo
روائيّة
عاطفيّة
"Kalau sudah besar, Lulu mau jadi apa?" Aku pura-pura sibuk berpikir, kemudian berpaling manja ke arah laki-laki yang merangkulku di pangkuannya. "Jadi seperti Ayah, dong!" Beliau mengernyit, tetapi ada raut jenaka yang terpancar lewat sorot matanya. "Jadi kuli bangunan maksud Lulu?" Aku tergelak, sudah terbiasa dengan candaan khas Ayah. "Atau.... jadi tukang kayu?" Ku gelengkan kepala sekali lagi, masih menertawai gurauan konyol tersebut. "Yang penting seperti Ayah." Ayah yang penuh tawa. Ayah yang tangannya sekasar serat kayu, tetapi memiliki sentuhan sehangat sinar matahari. Ayah yang selalu bau keringat, sengatan mentari, dan embun pagi. Pembaca dongeng-dongeng sebelum tidur setiap malam. Orang favoritku di seluruh dunia. Ya, namaku Lunetta Asterella. Tapi aku sering dipanggil dengan nama Lulu.
جميع الحقوق محفوظة
انضم إلى أكبر مجتمع لرواية القصص في العالماحصل على توصيات قصص مخصّصة، احفظ قصصك المفضلة في مكتبتك، وقم بالتعليق والتصويت لتنمية مجتمعك.
رسم توضيحيّ

قد تعجبك أيضاً

  • Kami Tumbuh Dari Ledakan
  • Laskar Pemimpi || NCT Dream (on going)
  • AZELLO [END]
  • [✓] Transmigrasi: Kembali Ketahun Ketika Ayah Saya Masih Sekolah
  • ABI SHANI
  • AYUSHITA [END]
  • I Became The Villain's Own Daughter  3
  • ALTEZZA EL !On Going!
  • 27 FEBRUARI
  • Terluka Untuk Bahagia [ REVISI ]

Di sebuah rumah yang lebih sering berisik oleh bentakan daripada tawa, tiga anak tumbuh dari puing-puing cinta yang retak. Ara, si sulung yang belajar menjadi atap saat bapaknya lebih sering pergi ketimbang tinggal. Rei, anak tengah yang mencoba menjadi lelaki tanpa pernah punya contoh. Dan Zea, si bungsu yang bersembunyi di balik boneka bermata satu sambil bertanya dalam hati: "Apa semua rumah seperti ini?" Saat rumah yang dulu mereka sebut "pulang" tak lagi memberi tempat, satu per satu dari mereka harus memilih: tinggal dalam reruntuhan, atau membangun sendiri pondasi baru-meski dengan tangan gemetar. Ini bukan kisah keluarga yang sempurna. Ini kisah tentang bertahan meski tidak utuh, tentang anak-anak yang tak ingin mewarisi luka orang tuanya. Dan tentang keberanian untuk berkata: "Ledakan itu berhenti di sini." Karena tumbuh dari kehancuran... bukan alasan untuk mencintai dengan cara yang menyakitkan.

تفاصيل إضافية
WpActionLinkإرشادات المحتوى