Dating His Father

Dating His Father

  • WpView
    LECTURAS 418,564
  • WpVote
    Votos 16,443
  • WpPart
    Partes 32
WpMetadataReadContenido adultoConcluida vie, oct 30, 2020
WpInfo
Ficción
Romance
Bertemu dengan seorang Sugar Daddy yang mengikat kehidupan Vanessa dengan sebuah kontrak bukanlah hal yang mudah, awal dari keinginan untuk dapat hidup terjamin dengan cara yang cepat karena tekanan kehidupan di kota yang keras ternyata membawa Vanessa ke sebuah konflik. Ternyata sahabat yang selalu menemaninya ketika suka dan duka adalah anak dari Sugar Daddy yang ia kencani tersebut, menyembunyikan banyak fakta dan bermain di belakang sabahatnya sendiri membuatnya tidak tahan dengan segala tekanan yang ada. Hingga pada akhirnya semua terungkap, Vanesaa harus memilih antara sahabat atau pria yang ternyata telah berhasil menarik hatinya tersebut. Yang ternyata juga memiliki perasaan yang sama kepadanya..
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Secarik Kertas Pengantar Tidur
  • Since We Meet
  • Kesempatan Kedua Mengubah Masa Depan
  • Beautiful Bastard (Playstore)
  •  SEETHE - Never care who's her, just know that you loved me, Sir.
  • Overdose: Four
  • Beautiful Submissive
  • 🖤Rahasia diantara kita
  • Mengejamu (Completed)

Kini malam adalah sahabat sekaligus algojo bagi Naka. Seribu sembilan puluh lima kali matahari telah terbenam sejak hari itu-seribu sembilan puluh lima kali kegelapan datang menghampiri, membawa serta kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Dia mencoba segalanya. Minum susu hangat sebelum tidur. Menghitung domba hingga angka yang tak masuk akal. Bahkan meminum pil tidur yang membuat kepalanya berat seperti batu. Tapi tak satu pun berhasil mengusir bayangan itu-bayangan seorang wanita dengan senyum yang dulu mampu menerangi kegelapannya. "Tuhan," desisnya malam ini, suaranya parau seperti kertas yang tergores. "Aku mohon... biarkan aku tidur tanpa mimpi. Hanya untuk sekali ini saja." Bantalnya basah sebelum ia menyadari air mata yang mengalir. Tangannya mencengkeram erat-erat kain itu, seolah takut suara hatinya yang pecah akan terdengar oleh dunia. Tiga tahun. Waktu yang cukup untuk menyembuhkan luka, kata orang. Tapi mengapa lukanya justru semakin dalam? Bertemu Vanya dulu seperti menemukan oasis di tengah gurun kehidupan. Wanita itu memberinya warna-warna yang tak pernah ia kenal sebelumnya-kuning cerah tawa mereka di Bromo, biru tenang obrolan larut malam, merah jambu pipi Vanya saat marah. Tapi sekarang? Semua berubah menjadi abu-abu. Kenangan itu berubah menjadi kutukan. Setiap kali ia menutup mata, yang terlihat adalah wajah Vanya yang hancur saat terakhir kali mereka bertemu. "Kalau ini yang terbaik untukmu, Nak, aku ikhlas." Dan kebodohan-oh, kebodohannya yang tak termaafkan! Malam ini, Naka menyerah. Dia mengambil buku kecil yang tersembunyi di bawah bantal-saksi bisu dari semua penyesalan yang tak terucap. Halamannya sudah keriput oleh air mata dan jari-jari yang gemetar. Naka menutup buku itu perlahan, seperti menyimpan kembali potongan jiwanya yang tercecer. Di luar jendela, Jakarta masih berdenyut dengan lampu-lampunya yang tak pernah tidur. Tapi di kamar ini, yang ada hanya seorang lelaki dan malam yang tak pernah benar-benar berakhir.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido