Story cover for Looking For what? by Takookie
Looking For what?
  • WpView
    LECTURES 140
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Chapitres 9
  • WpView
    LECTURES 140
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Chapitres 9
En cours d'écriture, Publié initialement juil. 27, 2019
"Dek, kok masih jomblo aja sih? Udah seperempat abad gini malam minggu gak ada yang ngapelin?" sindir bang adly

Thifa memutar bola mata, bosen dengerin omongan yang sama tiap minggu nya. "Duh ngaca dong, perlu adek ambil kaca dikamar" jawabnya sewot.
                                ***

"Dek, itu ada yang nyariin kamu. Keluar gih" Devin pun keluar menghampiri mama nya. 

"Siapa mah?"

"Tuh ada cewek yang nyariin kamu. Aduh dek, mama pusing tiap hari ada aja cewek yang datang mana beda tiap kerumah. Mama pusing liat kalian berdua, si abang kelewat serius kerja mulu pikirannya, kamu juga jangan suka tebar pesona, kasian mereka pada patah hati semua. " mama mulai dengan ocehannya. 
"Udah takdir mah punya anak ganteng" Devin pun mencium pipi sang mama lalu kabur.



#28 rasalokal (07/07/2025
Tous Droits Réservés
Inscrivez-vous pour ajouter Looking For what? à votre bibliothèque et recevoir les mises à jour
ou
#30rasalokal
Directives de Contenu
Vous aimerez aussi
Don't Talk About Money, écrit par catheryn99
55 chapitres Terminé
Pernah ga sih? Kalian sekelas sama anak beasiswa yang ganteng banget, pinter banget, tapi juga sombong banget. Padahal dia tuh miskin banget :( Bukannya Irin judging nih, tapi pernah sekali waktu dia sekelompok sama Tama dan maksa buat kerkel di rumahnya untuk tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia, dan Irin baru tahu, ternyata di Jakarta masih ada ya rumah yang base nya dari kayu tanpa di semen. Letaknya dalam gang kumuh yang bau sampahnya kemana-mana. Tapi jujurly, kalian ga bakal lihat Tama seperti lingkungannya itu, walau dia juga ikut milah sampah yang bisa di daur ulang atau bisa dijual lagi sama bapaknya, semua hal ini yang mendukung Tama mendapat beasiswa untuk berkuliah di universitas terbaik, di tempat yang sama dengan Irin, lewat jalur surat keterangan tidak mampu. Tapi Irin sangat kagum sama Tama, bukan karena wajahnya aja yang tampan, walau hidup Tama terlihat jauh lebih susah dari Irin yang turun naik Jazz ke kampus, Tama ga pernah sekalipun terlihat mengeluh, ga kaya Irin yang perasaan hidupnya ngeluh mulu, malah pinter juga masih pinteran Tama, makanya Irin suka sama Tama, kalo kata Irin sih suka aja, ga yang gimana-gimana, tapi Irin tuh jadi suka ngintilin Tama, minta sekelompok sama Tama, minta diajarin Tama, mau makan bareng Tama atau bawain bahkan beliin Tama makanan, nawarin Tama balik bareng, mau main ke rumah Tama, sampai Tama tuh jengah, dan dari situ Irin menyimpulkan Tama sombong berikut berpemikiran sempit. "Kamu bisa ga? Ga usah dekat-dekat dengan saya? Saya ga butuh belas kasihan kamu, Irin. Jangan bawain saya makanan lagi, ga perlu tawarin saya pulang bareng kamu karena saya bisa sendiri. Jangan masuk ke dunia saya karena kamu tidak cocok. Kamu tidak perlu menempatkan diri sebagai saya karena kamu tidak tahu bagaimana kehidupan saya berjalan. Tapi di luar semua itu, saya bisa menjalankan hidup saya sendiri, tanpa bantuan kamu" Tapi, prinsip Irin tetap satu sejak awal. "Kamu lihat aja, kamu bakal balik dan ngemis cinta sama aku!"
Vous aimerez aussi
Slide 1 of 9
Complete (END)  cover
Living with Brothers  [TAMAT]✓ cover
The Queen♛  [BʟᴀᴄᴋVᴇʟᴠᴇᴛ] cover
Rumah Tanpa Pintu [ON GOING] cover
Doi ¤ Seulrene ✔ cover
Don't Talk About Money cover
DeKaNa (END) cover
WHY DOES MY BROTHER HATE ME?  [REV] √ cover
Fake Nerd Girl [END] cover

Complete (END)

54 chapitres Terminé

"Ya, kau tidak punya mata? Lihat, buku ku jadi kotor!" Sosok yang sedang membersihkan seragamnya tersentak kaget mendengar pekikan tersebut. Matanya berkedip tidak percaya. Heol, jelas-jelas dia yang korban disini. Mengapa jadi dia yang di salahkan? Memberanikan diri, dengan perlahan dia menatap gadis bertopi di hadapannya itu. Seketika gadis berseragam sekolah itu menelan salivanya susah payah mendapati tatapan tajam di balik kacamata hitam tersebut, seakan siap menerkamnya saat ini juga. "J-jongsahamnida. Nde, aku yang salah," Yeri membungkuk dalam. Hanya cara ini yang terpikirkan olehnya. Yap. Gadis itu adalah Yeri baru saja pulang sekolah. Dia memutuskan untuk membeli minuman susu di tempat favoritnya sebelum pulang ke rumah. Tapi malah berakhir seperti ini. Joohyun menggeram kesal sambil melepas kacamatanya, mencoba menahan amarahnya yang siap meledak. "Aish, bisa-bisanya kau membuat ku kesal seperti ini," Hari pertamanya di kota kelahirannya saja sudah di sambut dengan hal seperti ini. Bagaimana kedepannya nanti?