DESTINY

DESTINY

  • WpView
    Reads 20
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 2, 2019
Kita memang tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita masih punya masa sekarang untuk berbenah memperbaiki masa yang akan datang. Takdir... Bisa menjadi sahabat jika kita menerimanya dengan baik. Dan akan menjadi musuh yang menakutkan ketika kita mencoba untuk menolaknya. "Semua orang memiliki masa kelamnya masing-masing. Jangan pernah jadikan masa lalu-mu sebagai alasan untuk masa depan-mu" *** Aku, Ayra Shirly Alnaira. Dan beberapa hari yang lalu usia-ku sudah menginjak kepala dua. Apa yang akan kalian laku-kan pada usia 20 tahun? Mengejar cita-cita? Melanjut-kan pendidikan? Mencari jati diri? Berkarya? Atau memilih untuk menikah? Jika pertanyaan itu untuk-ku maka Aku akan memilih untuk lebih mengenal diri-ku dan mengejar cita-cita ku. Itu hanya renca yang bisa ku perkirakan. Sebelum TAKDIR berkata lain, Aku memilih menikah.
All Rights Reserved
#25
pejuanghalal
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ternyata Takdirku adalah Kamu
  • AKU (BUKAN) ISTRI SIMPANAN [END]
  • cinta untuk sang nona
  • i love komandan S1-♡
  • Jika Takdir Telah Ditentukan
  • You are in my past and my future [END]
  • ANA UHIBBUKA FILLAH  (End)
  • Kekasih Halalku [Sudah DiRevisi] ✓
  • Menunggu Halal Bersamamu
  • Fuaida Silvia

JANGAN LUPA FOLLOW YA... terimakasih sudah mampir Ada cinta yang tidak perlu diumbar, cukup diam-diam mendoakan dari kejauhan. Karena kadang, mencintai yang paling dalam adalah saat memilih untuk menjauh. Aku, Cilla, gadis biasa yang sebentar lagi akan memulai hidup baru di UIN Rafah. Di usia delapan belas ini, hidupku seperti perjalanan kereta yang tak pernah berhenti di stasiun yang sama dua kali. Termasuk stasiun bernama Arsan. Dia pernah singgah. Pernah menjadi alasan senyumku setiap pagi. Pernah menjadi orang yang paling aku percaya. Tapi kami memilih pergi. Bukan karena tidak saling mencintai, tapi karena tahu: terlalu dekat bisa membuat segalanya salah arah. Kami memilih menjaga, meski harus saling menjauh. Dan kini, setelah waktu membawa kami ke dunia yang berbeda... Aku masih menyebut namanya dalam sujud terakhirku. Sementara aku tak tahu, apakah dia juga menyebut namaku saat langitnya mendung dan hatinya sunyi. Mungkin kami sedang menguji takdir. Atau... mungkin takdir sedang menguji kami. Karena jika benar cinta ini suci, maka tak perlu digenggam erat untuk dimiliki. Cukup dipercayakan kepada Allah. Dan jika suatu hari aku kembali bertemu dengannya, aku ingin bertanya satu hal: "Masihkah kamu menganggapku takdirmu, seperti dulu?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines