Tuan Rumah (towards a novel)

Tuan Rumah (towards a novel)

  • WpView
    Reads 997
  • WpVote
    Votes 52
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadMatureOngoing16m
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 1, 2020
✅ Naskah Puisi-puisinya telah di bukukan tahun 2019 Menjadi manusia (yang seharusnya) dinamis, tentu ada moment hidup yang ingin selalu kita rawat dalam kenangan. Kemudian menjadi kobaran semangat saat melalui berbagai persoalan dan tantangan. Atau setidaknya, akan membuat kita tersenyum geli di satu kesempatan. Tulisan, rupanya mulai berperan dalam hal itu pada diri saya. Huruf-hurufnya tumbuh dari keresahan. Kata per-katanya muncul dari pergulatan batin. Dan penggambaran penuh atas kegaduhan yang ada di kepala dan hati, akan hidup menjadi kalimat utuh. Sebagai wakil dari apa yang ingin kita sampaikan, tulisan kadang tak sependapat dengan empunya. Sejak tulisan merengkuh di pelukan pembaca, kadang ia tertuai sebagai makna yang berbeda. Dan itu bukan masalah besar. Karena realita pembaca terkadang sangat tepat dalam menerka jawaban pada tulisan kita atas pertanyaannya sendiri. Berporos pada penjelasan Eyang Sapardi Djoko Damono bahwa, puisi yang bagus adalah puisi yang mudah dibaca, maka tak ada lagi ungkapan: "aku tak bisa menulis puisi". Saya yakin semua bisa. Karena bekal utama seorang penulis, adalah berani menuliskan kalimat pertamanya. Bagi saya, yang masih baru saja senang menulis puisi, puisi adalah dunia lain. Tempat saya menaruh penat saat fikiran ingin mengumpat. Ruang paling sunyi kala bisingnya hati. Dan berpuisi adalah ketenangan-kesenangan. Maka, tidak peduli apakah puisi yang saya buat indah atau tidak, yang saya lakukan hanya terus menuliskan apa yang ingin saya tulis. Masalah pembaca menilainya indah, ya Alhamdulillah. Ada yang tidak suka, ya biasa saja. Dan Tuan Rumah, adalah satu dari banyak cara saya merelakan sesuatu, mengungkapkan sesuatu. Merekam perjalanan panjang dengan kalimat seadanya.
Creative Commons (CC) Attribution
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Clandestine
  • For His Frozen Heart...
  • Soulmates || ArDi|| ✓
  • Tsunami
  • Sequel: The Villainess Wants to Runaway
  • Radheya-Priya Vrushali Padmavati: Soul-mate of a Surya Putra (Karna Series 2)
  • Promises That We will Keep
  • ♤Alice Voltaire's Journal♤《PART ONE》{Previously "A Nekomimi's Diary"}
  • Unknowingly yours
  • Mori X Reader Insert ouran OHSHC Takashi [Completed]

His face is leveled to mine and I can see tiny droplets of water on his face and lips as he draws closer to me, my anticipation is crazy as he moves millimeter by millimeter. I roll my eyes and move my head away. "Don't do this." He acknowledges what I said but doesn't act on it. He takes his hand and moves it to my jawline, moving my head to him. This causes me to become frantic. I can't get messed over. "Karan, we literally just had this conversation. This isn't fair to me, please don't." His facial features soften completely at my tone and he looks at me genuinely. "I would never." With that he kisses me and my stomach explodes in butterflies, turning over. He moves his hands from the hood of his car to the side of my waist. "That wasn't fake, Tejasswi", his eyes intent on mine against the dark drizzling sky. I can't stop looking at him. She's a soloist who doesn't like help. Especially with a huge mission like this. Will the mission fall through? Or would she need a partner more than ever?

More details
WpActionLinkContent Guidelines