Masa-masa SMAku yang berbelit-belit bak ular memberikanku pelajaran yang membuatku dewasa.
-Adelina Delia-
***
"Dek, tolong itu mukanya kondisiin," tegur seorang laki-laki yang merupakan ketua osisnya.
"Mau dikondisiin gimana coba, orang saya dijemur gini, panas nihh, emang situ enak diem juga di tempat teduh," jawabku jujur.
"Ohh..., berani yaaa...," bentaknya.
"Nggak, nggak berani kok, Cuma saya jujur aja."
"Tulis namanya di daftar pelanggaran, berani ngelawan, bohong pula," perintahnya pada teman disampingnya.
"Maaf kak, saya tadi bicara nggak berani, terus saya bohong apa ya?" tanyaku tidak terima.
"Kamu berani ngelawan saya, kalau ditegur ya tinggal lakuin apa susahnya sih, terus kamu bohong soal panas, muka kamu tuh emang gak bisa dikondisiin, jelek dari lahir."
"Ya terus tau gak bisa, kenapa kakak nyuruh saya kondisiin muka saya."
***
Bahkan kejadian pertama MPLS pun aku masih ingat, bagaimana bisa aku menghapus memori SMAku, sedangkan dia ada di sana.
Aku rindu...
aku sangat merindukanmu...
Aku mohon...
Kembalilah paadaku...
"Hari ini, aku masih menjadi pluviophile-mu. Aku rela dijatuhi derasnya rindumu padaku."
- Quilladin Delina Indrawari
Quilladin Delina Indrawari, gadis cantik yang lahir di tengah hirup pikuk kota lumbung padi. Dirinya terlahir di tengah keluarga berada, apa yang ia inginkan mungkin bisa terkabulkan hanya dengan mengedipkan mata. Tapi ternyata tidak, yang ia inginkan hanya ibunya.
Jauzan Adlarn Praxn, lelaki sedingin es yang mempunyai wajah setampan aktor Thailand membuatnya digilai seluruh kaum wanita di sekolahnya. Tetapi di hatinya masih tetap berada satu nama. Rasenja Anindya Bailaxhe.
****
"Hai, aku Delina. Quilladin Delina Indrawari." Ucapku sambil mengulurkan tangan.
"Hujan," ucapnya dingin tanpa menerima uluran tanganku. Dia bahkan membuang mukanya, dan menatap jalan di depannya.
Apa aku salah dengar? Jelas-jelas disini memang hujan. apakah dia mengira aku buta? Tidak ingin salah paham, aku bertanya lagi.
"Maksudnya?" Ucapku sambil mengernyitkan kedua alisku.
"Nama saya Jauzan Adlard Praxn. Panggil aja Hujan," dia menjawab dengan dingin lagi. Tidak menatapku. Tatapannya masih kosong ke depan.
Lalu, aku membulatkan mulutku membuat huruf 'o' dan berkata, "Lucu ya, namamu Hujan."
Dia hanya berdeham sebentar lalu dia tak menghiraukanku lagi.
****
Bagaimanakah kelanjutannya?
Karena hujan mereka bertemu, apakah karena hujan juga mereka akan berpisah?
Apakah keinginan Delina bisa terkabul hanya dengan mengedipkan mata?
Apakah Jauzan bisa membuka hatinya lagi untuk wanita lain termasuk Delina?
Kepoin ceritanya yuk, semoga kalian suka ya.
Jangan lupa ajak teman, emak, bapak, adik, kakak, nenek, kakek dan tetangga buat baca cerita ini 😁
Aku butuh dukungan dari kalian semua. Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa !