Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.
HUFT
  • WpView
    Reads 316
  • WpVote
    Votes 48
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Mar 13, 2021
Jingga menyukai sesuatu yang manis. Ice cream rasa cokelat, susu rasa pisang, dan sikap manis dari pacarnya. Cewek berambut sepundak, dengan poni yang terkadang menutupi dahi nya, matanya yang sering berbinar dan hidung yang mancung bak orang korea. Ia mempunyai Rafri Afif Deannova sebagai pacarnya. Laki laki yang terkesan dingin dan kelewat tampan itu memilih Jingga sebagai pacarnya. Padahal sifat keduanya jelas berlawanan. Jingga yang lebih ceria dan humble, sedangkan Rafri yang terkesan cuek dan bermuka datar. Berbanding terbalik dengan Andika Kenora, ia adalah cowok iseng yang tiba-tiba datang di hidup Jingga, mewarnai harinya yang terkesan lebih berwarna. Laki-laki yang sering membuatnya kesal dan ingin menendang Andika ke luar angkasa. Ia bahkan masih ragu siapa yang pantas buat bersama dirinya? Si dingin atau si tengil?
All Rights Reserved
#556
lara
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • ASRAMA LANTAI 7 {TERBIT} ✓
  • Hijab in School [END]✔
  • Warna Warni Rasa (TERBIT)
  • Dating Demi Gengsi
  • TAKEN
  • Love Is Not Over ✔
  • DI ANTARA KITA ADA DIA ? [COMPLETED]

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines