Ego [On Going]

Ego [On Going]

  • WpView
    Reads 1,805
  • WpVote
    Votes 88
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadComplete Thu, Apr 21, 2022
"Kalau lo bisa bikin cewek judes itu jatuh cinta sama lo, motor bisa balik," kata Yohan mengambil taruhan dengan keputusan sepihak di hadapan kedua sahabatnya. Rehan tertawa sambil melayangkan pukulan di bahu Yohan. Dia menertawakan taruhan ringan itu yang dianggapnya sangatlah mudah untuk dimenangkan. "Gue ganteng, kaya pula. Mana mungkin Salsa bakalan nolak cowok kayak gue. Terkecuali dia itu sinting." "Oke, taruhan deal?" Rehan menarik tangan untuk membalas salaman dari Yohan. "Deal!" Karena taruhan ini, Rehan pun terjebak dalam kehidupan gadis judes berwatak keras sama sepertinya, yakni Salsa. Salsa sangat benci dengan Rehan yang selalu muncul di sekitar hidupnya walau awalnya semata-mata hanya sebuah taruhan. Tapi, karena setiap hari ada di hari-hari Salsa, perasaan Rehan berubah. Dia melihat sosok Salsa yang sebenarnya. Apakah yang sebenarnya terjadi dengan Salsa, hingga membuat seorang Rehan yang awalnya terpaksa untuk berpura-pura menyukai Salsa menjadi jatuh termakan taruhannya sendiri.
All Rights Reserved
#184
salsa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Reyhan dan Arsya [Completed]
  • Tokoh Utama
  • SALSABILLA ( END )
  • Arion (End)
  • OH MY BAD BOY (PRE-ORDER OPEN) ✔
  • All About You(COMPLETED)✔️
  • Hansa
  • Our Marriage
  • Rainangkasa #2 [END]

[Sequel Chatting With Reyhan] 🌞 Disarankan untuk membaca cerita Chatting With Reyhan terlebih dahulu🌞 Reyhan tidak suka dengan orang yang berbicara seperti burung beo, alias berisik. Reyhan lebih suka ketenangan, rumput hijau dengan langit biru sebagai peraduan, sangat menyenangkan. Tapi anehnya, dia memilih pacar dengan suara super berisik yang memekakan gendang telinganya. "Oh, iya. Arsya hampir lupa. Erm, Arsya pengen martabak, Reyhan tolong beliin yah. Di rumah sepi, mana Arsya laper, lagi. Tolong beliin Arsya martabak yah Reyhan." "Hanya itu?" "Iya, Reyhan. Nanti anterin ke rumah Arsya yah, martabaknya." "Iya." "Makasih, Reyhannya Arsya." "Iya." "Kok iya-iya mulu sih, jawabnya." protes Arsya. "Terus? Mau jawab apalagi?" "Nggak tau, terserah Reyhan lah." Arsya mencebik kesal. Pasalnya, kalimat yang ditunggu-tunggunya tak kunjung hadir di indera pendengarannya. "Kok Reyhan malah diem sih, jangan bikin Arsya kesel deh. Reyhan tuh yah--" Tut... Tut... Tut.. (Gambar cover diambil dari google)

More details
WpActionLinkContent Guidelines