We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Sudah Terlambatkah Aku???

Sudah Terlambatkah Aku???

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Tue, Aug 6, 2019
WpInfo
Non-Fiction
Cerita ini mengisahkan seorang anak yang ingin menjadi sosok yang terkenal. Setelah keinginannya terwujud, ia menjadi anak yang sombong hingga kehadirannya di kampung itu kerap menghadirkan masalah untuknya dan orangtuanya. Saat ia merasa selalu disalahkan oleh semua orang, ia pun kabur dari rumah untuk mencari ketenangan. Ia bermalam di suatu masjid. Saat di masjid ada pengajian, ia pun mendengarkan materi yang di sampaikan dengan khitmad dan materi yang disampaikan itupun membuatnya teringat kepada orangtuanya dan berlari pulang sambil meneteskan air mata. Didapati ibunya sudah berbaring di rumah sakit dan menghembuskan nafas terakhirnya. Ia pun menyesal dengan yang dilakukannya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cermin yang Retak tak Ingin di Benci
  • only he is the one i want [ lilynn ]
  • Senyum Ditengah keramaian
  • REKSA: The Last Bell
  • 48 FAMILY RESTAURANT ( JKT48 Gen 12 Fanfic)
  • Asrama Nomor 12 (JKT48 Gen 12 Fanfic)
  • 𝓙𝓮𝓳𝓪𝓴 𝓚𝓮𝓷𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓭𝓲 𝓤𝓳𝓾𝓷𝓰 𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪
  • Amara&Sean

Cerita tentang petualangan seorang gadis bernama Asya Salsabila, usia 16 tahun yang dipaksa ayahnya masuk pesantren, dan mengubur impiannya masuk SMK favorit jurusan fashion designer, sebuah cita-cita yang diinginkan sejak SMP. Namun, ternyata didalam pesantren banyak pelajaran hidup yang dia temui, mulai dari persahabatan bahkan percintaan. Ia merasakan jatuh bangun menghadapi semua permasalahannya seorang diri tanpa bantuan dari kakak-kakaknya, karena ia anak paling bungsu dari empat bersaudara dan paling dimanja. Kini ia harus dapat tegar berdiri, ketika sahabat terdekatnya yang ia percaya sepenuh hati berkhianat dan menusuknya dari belakang, kekecewaan sudah menelannya dan membuatnya depresi, sehingga lari dari pesantren, ketika hampir putus asa, seseorang datang menawarkan bantuan tapi harus merendahkan harga dirinya dengan melepas jilbab, dan mempertaruhkan ilmu agama yang sudah dipelajarinya, benturan antara prinsip dan kebutuhan untuk bertahan hidup, membuatnya dalam dilema yang besar, sampai pada suatu masa, ia harus mengalah, menanggalkan satu-satunya bukti bahwa ia anak pesantren, selembar kain yang menutupi rambutnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines