Mekanika Asa

Mekanika Asa

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Nov 17, 2019
Kita tidak akan bisa bersama, aku tidak bisa melihatmu meski kamu adalah nyata yang seharusnya ku gapai. Aku menunggu hal yang sia-sia karena kamu bukan dia. -Bayu ----- Aku meninggalkan dia karena kamu memberikan euforia bagiku. Namun semesta terlalu paham bahwa aku menutup hati. Satu dan lain hal, takdir ini menjebak kita dalam rantai. Mungkinkah hanya aku yang gundah gulana, karena jujur aku mulai mencinta. -Mentari ----- Raka Anumerta menutup layar laptop dihadapannya lalu melirik Mentari yang sedang sibuk dengan berkas dimejanya. Ia akan memerintahnya lagi, namun suaranya seperti menyangkut ditenggorokan. Ada rasa canggung yang menggerogoti hatinya tiap kali mata tajam gadis itu menatapnya bertanya. Seharusnya Raka sudah terbiasa jika saja Mentari bersikap seperti sekretaris sebelumnya. Tidak, Raka akan terbiasa jika Mentari bukan sahabat mantan tunangannya. ----- "Gak masalah Ri, lo bebas memilih kebahagiaan lo sendiri. Toh gue sama Raka udah lama selesai. Tapi gue saranin, jangan sama Raka." "Iya, gue tau Ra." ----- Raka membuyarkan lamunan Kandung yang terus menatap Mentari dibalik dinding kaca ruangannya. Paham betul bahwa lelaki dihadapannya ini membawa setumpuk penyesalan terhadap gadis itu. ----- Bagaimana jika orang yang kamu kira mencintaimu sebenarnya hanya melihat orang lain dalam dirimu? Bagaimana jika kamu tidak bisa berhenti membandingkan masalalumu dengan apa yang kamu miliki hari ini? Bagaimana jika bosmu yang menyebalkan adalah mantan tunangan sahabatmu? Bagaimana jika sekretarismu yang menggemaskan seperti kucing adalah perempuan yang membantu kehancuran cintamu? Bagaimana jika perempuan yang pernah mencintaimu kini dicintai sahabatmu sendiri? Bagaimana jika kamu harus menutupi cinta yang masih tersisa dihadapan dunia? ------ Kisah rumit tentang harapan yang mulai sirna. Teacaramell 2019
All Rights Reserved
#6
kesenian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • (LENGKAP | SELESAI REVISI) Hello... Dudaku... (Sequel Off M.Gant)
  • KALINDRA
  • JANGAN PANGGIL AKU LARAS
  • BronSAn
  • Toxic Relationship
  • ANNOYING KOMANDAN {END} ✓
  • Roller Coaster
  • Langit Yang Merenggut Cinta
  • Poison Of Love

(SELESAI REVISI, SEDIKIT BERUBAH CERITA ALURNYA. CERITA SUDAH SELESAI DAN LENGKAP. HANYA DI POST DI WATTPAD) ❗❗❗ Cerita ini membuat diabetes. Dan ini cerita ringan. Author membuatnya karena ingin cerita yang manis ❗❗❗ --- "Kalau begitu, Anda bisa bantu saya," kata Arjuna, suaranya tenang namun penuh tekanan. "Apa?" tanya Yena pelan. "Anda... jadi istri saya." "Hah?" Yena nyaris berbisik. Jantungnya berdetak cepat, kepalanya terasa pening. Apa dia tidak salah dengar? Seorang Arjuna, duda beranak satu, adik angkat dari sahabat ayahnya-Reyvan dan Rezka-serta om angkat dari pacarnya sendiri, Alvano, meminta dirinya menikah? Gila. Pria ini sudah gila. Yena ingin tertawa, tapi tenggorokannya kering. Anak Arjuna bahkan hampir sebaya dengannya. Dan yang lebih parah, dia sudah punya pacar-Alvano. Dia mengumpat dalam hati. Seandainya saja hari itu dia tidak membuka pintu ruang dosen secara sembrono dan melihat dosennya itu dalam kondisi-sial-telanjang bulat, mungkin dia tidak akan berada dalam situasi ini. Terjebak. Arjuna semakin mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Bagaimana, Bu Yena?" suara Arjuna terdengar tenang, tapi ada sesuatu yang mengintimidasi di baliknya. "Apakah Anda bersedia membantu saya? Atau..." Dia menggantungkan kalimatnya, matanya menatap tajam. "Saya tidak akan membiarkan Anda keluar." Yena menggigit bibir. "Itu kan salah Anda sendiri," ucapnya, suaranya sedikit parau. "Anda yang tidak mengunci pintu kalau Anda mau... seperti itu." Wajah Arjuna tetap datar, tapi ada sesuatu di dalam matanya yang sulit Yena pahami. Pria itu semakin mendekat. Jarak mereka nyaris tidak ada. Tangan Arjuna terangkat, jari-jarinya yang besar meraih dagu Yena dengan lembut namun kuat, memaksanya menatap pria itu. "Kalau Anda tidak mau," bisik Arjuna, "mulai saat ini hidup Anda akan berbeda, Bu Yena." Yena menelan ludah. "Apa maksud Pak Juna?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar. Arjuna tersenyum. Senyum yang membuat Yena... menahan napa

More details
WpActionLinkContent Guidelines