Hati-hati, Kapten!

Hati-hati, Kapten!

  • WpView
    Reads 20,668
  • WpVote
    Votes 1,815
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 9, 2022
WpInfo
Fiction
Historical
"...dia telah pergi, bahkan sebelum sempat mengucap janji suci kami." • Tidak lagi khawatir kan menggelayuti hatiku seperti saat kau pergi ke medan peperangan, Tidak lagi kucemas tentang darah yang bisa saja terus keluar dari tubuhmu tanpa kuketahui, Tidak lagi kutakut kau akan disakiti manusia, Ketahuilah, Kesatriaku, doaku untukmu tak akan pernah berhenti mengalir, seperti cintamu pada Pancasila, seperti cintamu pada negeri ini. Cerita fiksi tentang Kapten Czi Anumerta TNI Pierre Andries Tendean (yang gugur di peristiwa Gerakan 30 September PKI) bersama calon istrinya kala itu, Rukmini Chamim. © Liferary, 2019
All Rights Reserved
#9
komunis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PATRIOT DARI BUMI PANORAMA √ TAMAT
  • TENDEANSTRAAT
  • Rindu Lukisan ( SELESAI )
  • KISAH YANG BELUM USAI | PIERRE TENDEAN ✔️ [REVISI]
  • After Meet You ✔
  • Since 1965 [Pierre Tendean]
  • Kapten Alvand ( Tersedia Ebook )
  • Jejak Waktu
  • 𝖄𝖆𝖓𝖌 𝕷𝖆𝖒𝖆 𝕻𝖊𝖗𝖌𝖎 || Pierre Tendean
  • Elizabeth's Past (Discontinued)

Terinspirasi dari kisah cinta dan patriotisme salah seorang pahlawan Revolusi Indonesia, Kapten Czi Pierre Andries Tendean. cerita ini hanya fiktif belaka. Ada beberapa bagian yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Sumber penulisan perjalanan karir Kapten Czi Pierre Tendean selama hidupnya diambil dari Buku Biografi asli Kapten Czi Pierre Tendean berjudul : SANG PATRIOT Kisah Seorang Pahlawan Revolusi. Cover by: Ihsan Art. _____________ "Memangnya ramalan apa yang dibicarakan Mas Soeseno tadi, Mas?" Tanya Rukmini pada Pierre saat perjalanan pulangnya mengantarkan gadis itu kembali ke rumahnya. Pierre tertawa lalu menatap pujaan hatinya. "Ramalan iseng jaman taruna dulu. Hanya permainan, Min. " jawab Pierre. Rukmini diam tapi kemudian kembali menatap Pierre. "Memangnya apa kata ramalannya?" Tanya Rukmini. Pierre menoleh sejenak dengan senyum manisnya. Tidak menduga jika Rukmini penasaran dengan ramalan iseng yang pernah dilakukan Pierre bersama dengan beberapa orang temannya. "Kami iseng main jailangkung dan bertanya pangkat apa yang bisa kami capai dan ramalan tentang saya, katanya Pangkat saya sampai Kapten. " Pierre kembali tergelak saat mengingat kegiatan konyolnya bersama teman temannya dulu. Rukmini tersenyum menatap Pierre. "Saya jadi pahlawan pun saya rela, asalkan bisa mengabdi untuk negara, " Lanjutnya. Rukmini menatap Pierre yang nampak tersenyum bangga. Gadis itu memberanikan diri untuk menyentuh tangan Pierre dan menggenggam nya. Membuat Pierre berjengit kaget lalu tersenyum kemudian. "Mimin ingin menggenggam Mas lebih lama. Ingat, Mas bukan anak dewa, nyawa Mas cuma satu dan harus dijaga, " ucap Rukmini seraya tersenyum. nada suaranya terdengar begitu lembut. Pierre membalas genggaman kekasihnya itu dan meletakkan tangan Rukmini di depan dada bidangnya. "Mimin tidak perlu khawatir, Mas akan selalu ada untuk Mimin. " (*) ________________

More details
WpActionLinkContent Guidelines