Dear My Teacher

Dear My Teacher

  • WpView
    Reads 98
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Fri, Apr 24, 2020
The story about love in Fisabilillah. Dear My Teacher direvisi ulang diakun ini. Muhammad Arifin Ash-Shiddiq, Dia adalah guruku. Guru yang mampu membuat hidupku berubah 360 derajat. Dia, tak dapat aku deskripsikan. Dia, segalanya untukku. Hingga dimana aku mulai menyukainya, Menyangka bahwa seluruh perkataan dan nasehatnya adalah bentuk tanda rasa sukanya kepadaku. Tapi, apakah benar? 06, April written by:@annisanara Maaf, cerita ini murni dari pemikiran dan imajinasi annisanara. Jadi, jika ada yang meng-copy cerita ini, mohon dilaporkan kepada saya. Terimakasih.
All Rights Reserved
#73
anauhibbukafillah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • Dear Imamku (Completed√)
  • Cahaya Iman Gus Berandal (on going)
  • Secret Admirer Senior.
  • Mencintaimu Dalam Diam ( TAMAT  )
  • Arafah
  • Karena Kamu Rumahnya
  •  Tunggu Aku Dirumahmu Ukhti
  • Syair Cinta Az Zahra

[COMPLETED] "Jadi lelaki itu yang akan dijodohkan ibu denganku? Tega sekali, Ibu," gerutuku. Aku semakin membulatkan tekadku untuk menolak ini. Tanpa kusadari, ibu melihat ke arah jendela kamarku dan melihatku kesal. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar diketuk. "Baby, buka pintu!" Pintanya tegas. Aku pun membukakan pintu. Lalu menelungkupkan badanku di atas kasur. Ibuku menarik kursi belajarku mendekat ke arahku dan memandangiku, lalu berkata pelan padaku. "Kau tahu sendiri kan kebiasaan di sini? Kau juga tahu asal usulmu? Kau paham betul, bagaimana ibumu ini bertahan? Semua karena ibumu ini sepakat dengan norma di sini. Mana mungkin kita bisa hidup cukup seperti ini kalau tidak mengikuti itu semua. Baby, kau tahu itu semua. Harusnya kaupun seperti ibumu ini, ikut arus itu." Melihatku tidak memandangnya, ibu terus mengatakan hal-hal yang sebenarnya kami berdua sama sama tahu. "Ibu menikah dengan bapakmu ketika seusiamu. Dengan itu, ibu bisa memiliki rumah ini dan seperangkat alat jahit. Ibu mampu membesarkanmu, menyekolahkanmu, memenuhi segala keinginanmu, dan tidak pernah menyusahkan orang lain. Kau memang tidak pernah bertemu bapakmu, tapi ibumu ini sudah bercerita tentangnya." "Kita hidup tanpa kekurangan. Bahkan bisa membantu sesama. Kita pun hidup bahagia. Mereka yang juga melakukan ini pun juga sama." "Menikah bukan sesuatu yang salah, Baby." Ibuku mengakhirinya dengan kalimat itu, lalu berdiri hendak keluar kamarku. "Tapi menjanda di usia muda bukan keinginanku, Bu." Balasku sebelum ibu keluar kamar. Ibuku berhenti sejenak, kemudian keluar dari kamarku. Happy reading~ Jangan lupa untuk: √ Vote √ Coment √ Kritik dan Saran Hargai author dengan vote, terimakasi💞

More details
WpActionLinkContent Guidelines