Story cover for My Firefly by firlidhermawan
My Firefly
  • WpView
    Membaca 362
  • WpVote
    Vote 46
  • WpPart
    Bab 17
  • WpView
    Membaca 362
  • WpVote
    Vote 46
  • WpPart
    Bab 17
Bersambung, Awal publikasi Agt 11, 2019
"Gue mau putus sama lo!" Ucap Syasya.

"Kenapa sih Sya?gue nerima lo apa adanya kok!"

"Eh lo dengerin nih ya,walaupun lo nerima gue apa adanya,tapi lo gak bisa ngejadiin gue satu satunya,walaupun gue gak punya apa apa,tapi gue gak bisa gitu aja lo injak injak,brengsek emang" Syasya penuh emosi.

Plakkk , suara tamparan yang sangat memekik.

Syasya menatap nanar mata lelaki yang sudah menamparnya itu seraya mengusap pipi tembemnya yang sekarang berwarna merah dan panas. Tanpa sadar Syasya berbalik badan dan berlari tak tau arah,hingga air matanya menetes dipipi yang masih panas tadi. Syasya berhenti ditempat sepi dan masih menangis karena sebuah penghianatan.

"Gue butuh lo My Firefly" Lirih Syasya.

"Gue disini kok:)" Sahut seorang lelaki diseberang sana.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Daftar untuk menambahkan My Firefly ke perpustakaan kamu dan menerima pembaruan
atau
#326pahlawan
Panduan Muatan
anda mungkin juga menyukai
ADIKARA ELUSIF (END) oleh blackcurrantbery
58 bab Bersambung
Baca DeKaNa terlebih dahulu, ini S2 nya DeKaNa🔥 "M-maksudnya apa?" Ekspresi wajah yang semula terlihat senang berganti menjadi rawut wajah yang amat tidak disukai, seolah perubahan mimik wajah mempengaruhi suasana hati sang pemilik Perlahan sudut bibirnya ketarik ke pinggir membentuk lekungan senyuman yang terlihat menyeramkan bagi remaja yang berdiri di hadapannya, bahkan bola matanya terlihat bergetar melihat apa yang tengah terjadi di hadapannya. "Hanya seminggu" Kakinya perlahan melangkah mendekati remaja yang sudah membeku di tempat itu, mengayunkan tangannya untuk mengusap puncak kepala yang lebih muda "Sayang sekali, Khai nggak panggil Ayah-" Plak Ia menatap tangannya kemudian menatap anak yang lebih muda di hadapannya dengan alis mata terangkat, berani, sangat berani "L-lo gila" "Lo bawa gue kemana hah anjing?" Ia memejamkan matanya, sudah seminggu ini hatinya berbunga-bunga, namun sekarang api neraka kembali membakar hatinya mendengar lontaran perkataan dari anak muda yang ada di hadapannya. Srett "Kenapa lo diam aja hah?, jawab!, lo bawa kemana gue hah?" Teriaknya dengan nafas tersenggal-senggal karena perasaan marah. Ia kembali tersenyum, mencoba mengusap puncak kepala itu namun tepisan kembali dirinya dapat, oke cukup, ia sudah sangat sabar kali ini, "Askar ternyata nggak guna" Perlahan kaki itu mendekati remaja itu, lalu mengusap paksa kepala itu dengan kuat, dan dalam sekali tarikan ia berhasil membuat tulang tengkorak itu bersentuhan kasar dengan dinding rumah kokoh miliknya "Lo manja banget ya Kai, semua harus gue yang turun tangan" Ucapnya sembari menyeringai melihat ekspresi wajah Kaivan yang terlihat kesakitan sekaligus marah karena tidak bisa melawan.Tubuh itu jatuh telentang di lantai, dan tanpa belas kasihnya, ia menaruh telapak kakinya di atas dada Kaivan yang seketika membuat anak itu meringis sakit karena tak mampu menahan rasa sakit lagi "A-abang" "Kalau udah kek gini, baru manis diliat" 19 April 25
anda mungkin juga menyukai
Slide 1 of 10
Luka Naren. cover
ADIKARA ELUSIF (END) cover
Red Circle [END] cover
비난의 끝 cover
SUARA BIA (TAMAT) cover
(PEACE CALM)TXT Choi line cover
this is me cover
Kemana Arah Pulang? cover
Sahabat atau Pacar [TAMAT] cover
NAWACITA [TERBIT] cover

Luka Naren.

46 bab Lengkap

Bagi Naren, rumah bukan tempat pulang. Hanya bangunan penuh suara yang tak pernah mendengar. Sendirian di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah memberinya ruang, Naren hanya ingin satu hal: diterima, meski sekali saja. "Adik gue cuma satu. Cuma Hema." Kalimat itu menamparnya lebih keras dari apa pun. Apakah keberadaannya hanya luka? Apakah ia masih dianggap? Atau justru menjadi alasan penderitaan yang tak berujung? Di tengah ujian hidup yang terus berdatangan, Naren berjuang sendiri menghadapi rasa bersalah, kehilangan, dan harapan yang nyaris pudar. Ini adalah kisah tentang luka yang tak terlihat, tentang rasa sepi di tengah keramaian... dan tentang seorang laki-laki yang diam-diam ingin pulang namun bukan ke rumah, tapi ke hati yang bisa memeluknya.