Home
  • WpView
    Reads 176
  • WpVote
    Votes 43
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 18, 2019
Rumah, bukannya banyak yang bilang rumah adalah tempat tinggal yang bisa membuat kita merasa aman? Ah... kalian salah. Bagi kami Rumah adalah neraka, bukannya merasa aman kami malah merasa ketakutan setiap kali berada di rumah, syukurlah ada orang yang mau menampung kamu ke 'rumah' sebenarnya. Kami, anak-anak malang yang terpaksa harus terbebani dengan banyak masalah.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Why Me? || Zhong Chenle
  • BROKEN : The secret of life
  • 𝙓𝘼𝘾𝙄𝙀𝙍𝙔𝘼
  • S2 Pundung Family [[HIATUS]]
  • ILUSI
  • 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐒𝐞𝐧𝐣𝐚 [Sudah Terbit]
  • LINGGA (END) ✔️
  • Home
  • ALEENA'S LIFE
  • RUMAH KE DUA

(BROTHERSHIP + FAMILY) Jika mendengar kata rumah, apa yang langsung terlintas dipikiran? Mungkin orang akan berkata; itu seperti sebuah bangunan hangat, yang setiap kita datang membuka pintu, akan selalu ada orang-orang yang menyambut kita dengan senyum lebar. Tempat yang selalu membuat kita aman dan dapat berteduh dari kekacauan dunia. Atau kita melihat rumah seperti bangunan yang tidak mempunyai arti khusus, yang meski pulang dengan keadaan kacau balau, kita tetap tidak merasa keramahan dunia. Terkadang kita harus mengerti bahwa tidak semua rumah itu ramah. Tidak semua rumah bisa dijadikan tempat pulang, beberapa rumah justru memberi luka paling banyak. "Apakah suatu saat aku juga akan menemukan keharmonisan dalam kata pulang? Atau justru sama sekali tidak?" Pertanyaan itu selalu muncul setiap kali Naren menginjakkan kakinya di bangunan hampa yang ia sebut sebagai rumah. Naren selalu iri, iri dengan mereka yang memiliki keharmonisan dalam kata 'pulang.'

More details
WpActionLinkContent Guidelines