Difa Story (On Going)

Difa Story (On Going)

  • WpView
    Reads 897
  • WpVote
    Votes 382
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Nov 2, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Sebagian orang mungkin akan berfikir, jika anak dari keluarga yang berada itu adalah manusia yang gila hormat, ingin dipandang lebih, dan sombong. Atau mungkin kalian akan mengira mereka itu orang yang paling sempurna hidupnya. Tapi tidak dengan Difarastya Ariza. Dia anak yang terlahir dari keluarga berada dan hidupnya yang serba berkecukupan. Dia tidak memikirkan popularitas. Menurutnya itu tidak penting jika dibandingkan dengan sebuah kehangatan dan kedamaian dalam sebuah keluarga. Tapi apakabar dengan kehidupannya yang hitam putih saja, tidak ada secuil perhatian orangtua untuknya. Sifat mereka yang gila kerja membuat Difa kesepian. Dalam keadaan hidupnya yg seperti ini, apakah ada seseorang yang memasuki kehidupan Difa? dan memberi warna dalam hidupnya. Penasaran? yuk baca:).
All Rights Reserved
#2
noob
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  •  HAZELA
  • Rainbow
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Peluk Aku, Tuan
  • Mengalah? Gak papa (END)✔
  • DIFARA'S LOVE ✔️
  • Anggala's Little Hope
  • LOVE STORY (END)✓
HAZELA

Hazela oleh sweedzz_ Hazela Abraham lahir sebagai seorang kembar, tapi hidupnya tak pernah seimbang seperti seharusnya. Di antara dua wajah yang serupa, hanya satu yang selalu mendapat cahaya. Dan itu bukan dirinya. Sejak kecil, Hazela terbiasa menjadi bayang-bayang Bianca, saudara kembarnya yang sempurna, cerah, dan selalu dicintai semua orang. Termasuk oleh Samudra, lelaki yang Hazela panggil kekasih, namun tak pernah benar-benar membuatnya merasa menjadi satu-satunya. Setiap hari adalah perjuangan. Perjuangan untuk didengar, diperhatikan, bahkan sekadar diakui. Samudra selalu ada... tapi tak pernah untuk Hazela. Hatinya, langkahnya, dan keputusannya, semuanya selalu condong pada Bianca. "Kamu bisa ke kantin sendirian, kan?" Kalimat yang seharusnya biasa, tapi terdengar seperti tamparan ketika disampaikan oleh orang yang kau sebut rumah. Hazela tidak butuh dunia. Ia hanya ingin satu hal: dianggap penting, walau hanya sekali. Ia bukan meminta dunia. Ia hanya memohon tempat kecil di hati seseorang yang katanya mencintainya. "Jadiin aku prioritas kamu, Sa... sekali saja, sebelum aku tidur untuk selamanya." "Kamu prioritas aku, Zel... tapi sekarang, menjaga Bianca lebih penting daripada kamu." Ketika cinta menjadi luka, dan kehadiran menjadi beban, apa yang tersisa dari sebuah hubungan? Akankah kamu tetap bertahan mencintai seseorang yang tak pernah memilihmu? Hazel hanya punya satu permintaan sederhana sebelum segalanya terlambat: "Berikan aku kebahagiaan, sebelum aku pergi. Itu saja."

More details
WpActionLinkContent Guidelines